Huruf

“Mm… Baiklah, Rinto. Tidak ada masalah. Rinto baik-baik saja kok,” tutur Bu Lastri. Jelas sekali itu tidak baik-baik saja. Namun, demi membesarkan hati Rinto, Bu Lastri merasa perlu berbohong. “Ini surat dari Bu Lastri. Nanti begitu sampai di rumah, Rinto berikan surat ini untuk ibunya Rinto, ya.” Bu Lastri mengelus lembut kepala Rinto. Rinto membalas dengan anggukan kecil

***

Begitu sampai rumah, Rinto segera menyampaikan surat Bu Lastri kepada ibunya sebelum ia bergegas ke sawah, bergabung dengan teman sepermainannya, bermain layang-layang.

“Kepada yang terhormat, Ibunda dari Rinto Setiawan, di kediaman,” ibu Rinto mulai membaca surat. “Salam hormat untuk ibu, semoga kebaikan menaungi segala aktivitas ibu di mana pun berada, amin. Sebelumnya biarkan saya memperkenalkan diri. Saya Bu Lastri. Guru sekaligus wali kelasnya Rinto. Mungkin ibu bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba menulis surat untuk ibu. Saya hanya bisa katakan kalau kedatangan surat ini adalah karena Rinto, anak ibu dan anak saya juga.” Ibu Rinto mengubah posisi duduknya.

“Rinto anak yang baik, saya tahu itu. Dia juga tergolong anak yang aktif bergaul dan selalu tampak bersemangat selama mengikuti pelajaran. Namun sayangnya, Rinto oleh Tuhan dikaruniai beberapa hal tidak biasa yang membuatnya tampak berbeda dengan teman-temannya. Saya yakin ibu pasti sudah mengetahui bahwa Rinto memiliki masalah dalam melafalkan huruf R, M, N, dan C. Rinto melafalkan R menjadi L, M menjadi K, C menjadi P, dan N juga menjadi L, meski tidak persis sama dengan L-nya R. Istilah umum untuk anak seperti Rinto adalah cadel. Saya hanya bisa menyarankan ibu untuk membawa Rinto ke seorang dokter ahli terkait hal ini. Bukannya apa-apa, selagi belum terlambat, mumpung Rinto masih kecil (umur 6 tahun). Segala usaha yang terbaik musti kita upayakan demi kebaikan Rinto di masa depan. Sebab yang paling saya khawatirkan dari keadaan Rinto saat ini bukan masalah ketidakmampuannya mengucapkan beberapa huruf dengan sempurna, tapi lebih ke perkembangan mental dan psikologisnya kelak. Sebab anak yang cadel rentan menjadi sasaran olok-olok temannya. Mungkin olok-olok tampak biasa saja, namun hal itu bisa mempengaruhi aspek psikis si anak. Lebih-lebih jika olok-olok itu merembet menjadi sebuah tindakan bullying fisik, tentu akan sangat berbahaya bagi perkembangan karakter Rinto di masa depan. Maka dari itu, saya mengajak ibu untuk sama-sama berusaha demi kebaikan Rinto. Saya akan terus memberi pelajaran ekstra untuk Rinto di sekolah seusai jam pulang normal. Jadi ibu harap maklum jika Rinto pulang 1 jam lebih lambat dari teman-temannya yang lain. Salam hormat, Bu Lastri”.

Sebelum melipat kembali surat dari Bu Lastri, ibu Rinto menyadari sesuatu yang tertinggal. Ada kalimat yang belum dibacanya. NB: Saya dulunya juga cadel dan baru bisa mengucapkan huruf R dengan baik saat saya berusia 12 tahun. Jadi saya sangat memahami perasaan Rinto, anak ibu.

***

Arsip Cerpen di Indonesia