Huruf

“Lalu solusinya bagaimana, Dok?” tanya ibu Rinto, waktu itu.

”Sebenarnya ada beberapa metode untuk mengatasi masalah rhotacism, salah satunya dengan terapi bicara atau speech therapy oleh pakarnya. Namun terapi bicara ini bisa dilakukan dengan catatan, si pasien yang cadel, dalam hal ini anak ibu, Rinto, tidak mengidap kelainan atau gangguan kesehatan lain yang juga bisa menyebabkan keluhan ini. Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk melakukan speech therapy, terlebih dahulu kita harus lakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap Rinto. Apalagi cadel yang dimiliki Rinto jelas-jelas berbeda dengan kebanyakan orang. Bahasa sederhananya, maaf, tidak normal.”

“Nanti yang memberi terapi Anda ya, Dok?”

“Oh, tidak. Saya bukan pakar dalam hal itu. Sebab terapi ini mencakup gerakan napas atau pelafalan huruf tertentu yang sulit bila dilakukan oleh orang yang bukan pakarnya, karena melibatkan koordinasi lidah dan bagian lain di rongga mulut. Namun ibu tenang saja, relasi saya sesama dokter ada yang ahli dalam urusan ini. Nanti saya tuliskan surat pengantar rekomendasinya untuk pemeriksaan Rinto lebih lanjut.”

“Oh begitu ya, Dok.”

“Iya. Tapi sebelum itu, saya punya sedikit saran. Untuk benar-benar bisa mengatasi masalah Rinto, tidak hanya kami, para dokter saja yang berperan. Perlu ada peran aktif dari orang-orang dekat Rinto, terutama anda sebagai ibunya. Anak yang cadel sebisa mungkin jangan diejek atau diolok-olok. Orang-orang di sekitarnya juga jangan mudah menggoda Rinto untuk ikut-ikutan berpura-pura cadel, itu bisa memperlambat kesembuhan si anak sendiri.”

Rupanya konsultasi 6 tahun yang lalu itu menjadi konsultasi pertama sekaligus terakhir. Ibu Rinto tidak pernah lagi memeriksakan Rinto ke dokter mana pun. Dan alasannya sungguh klasik, khas orang desa: keterbatasan dana.

Jadilah Rinto tumbuh menyongsong usia remajanya sebagai anak cadel. Teman-temannya mulai menjauh dan tidak mau lagi bermain dengannya. Kalaupun mau, itu karena mereka memang berniat menjadikan Rinto sebagai objek olok-olokan semata. Lingkungan keluarga yang diharapkan menjadi payung pelindung terakhir di tengah derasnya hujan cemoohan yang menimpa, justru ikut-ikutan menindas mentalnya. Setelah kematian ayahnya 5 tahun lalu, Rinto lebih banyak diam. Dari ibunya, ia tidak mendapat porsi perhatian yang cukup. Dua orang kakaknya yang normal justru mendapatkan perhatian lebih besar daripada dirinya. Kedua kakaknya, kadang juga ibunya, sering kali mengejek Rinto dengan menirukan gaya cadelnya. Situasi yang sangat tidak kondusif ini sangat menyiksa jiwa Rinto. Maka pilihannya kini hanya diam saja. Sepanjang hari, Rinto hanya diam.

***

Arsip Cerpen di Indonesia