Sebulan belakangan ini, desa Rinto sedang dirundung desas-desus harimau putih jadi-jadian. Motif pelakunya tidak jelas bertujuan apa, namun isu ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Tiga orang sudah menjadi korban keganasan harimau putih jadi-jadian ini. Ketiganya tewas dengan cara yang sama: bekas gigitan di bagian kanan leher.
Karena isu ini, anak-anak kecil dilarang keluar rumah mulai matahari tenggelam. Tiap malam, setidaknya ada sepuluh orang dewasa yang berjaga-jaga di pos ronda. Suasana desa benar-benar mencekam, sebab harimau jadi-jadian ini tak segan membunuh siapa pun di hadapannya. Tak terlihat lagi majelis gosip kelompok ibu-ibu yang biasanya rutin di gelar secara bergiliran di teras-teras depan rumah. Pengajian dan arisan yang biasanya dilangsungkan di malam hari terpaksa dialihkan waktunya menjadi pagi atau siang hari. Dua hari sekali sejumlah polisi juga tampak turut berjaga-jaga, bahu-membahu bersama kaum lelaki dewasa di pos ronda.
Rinto bukan lagi seorang bocah ingusan berusia 6 tahun. Ia kini berumur 13 tahun. Rinto sudah mulai beranjak remaja. Fisik tubuhnya tumbuh dengan baik. Tubuhnya tegap, parasnya juga tergolong rupawan. Sayangnya, pertumbuhan positif yang ditunjukkan fisik Rinto tidak diikuti dengan baik oleh pertumbuhan mentalnya. Ia tumbuh sesuai dengan kekhawatiran yang ditakutkan Bu Lastri: menjadi korban olok-olok dan bullying dari sesama temannya.
Rinto masih cadel. Ia masih mengucapkan M dengan K, N dengan L, dan C dengan P. Sebenarnya ibu Rinto sempat mengonsultasikan masalah anaknya ini kepada salah seorang dokter.
“Cadel, atau rhotacism dalam istilah kedokteran, bukan disebabkan oleh lidah yang pendek seperti anggapan kebanyakan orang. Perbedaan pada bagian yang bernama frenulum linguae-lah yang menyebabkan seseorang kesulitan melafalkan salah satu huruf atau lebih. Frenulum linguae dapat terlihat saat seseorang menggerakkan lidahnya ke atas. Terdapat seperti jaringan yang menghubungkan dasar mulut dan lidah; itulah frenulum linguae. Nah, perbedaan panjang dan pendek frenulum linguae inilah yang menyebabkan lidah sulit bergetar, sehingga pada akhirnya membuat seseorang kesulitan melafalkan salah satu huruf dengan baik dan benar. Namun Rinto sedikit berbeda. Memang selain rhotacism, ada istilah sigmatism bagi orang yang kesulitan mengucapkan huruf S. Mereka melafalkan S dengan mendesis. Ada juga lambdacism, bagi mereka yang kesulitan melafalkan huruf L. Dan untuk kasus Rinto, memang musti ada pemeriksaan lanjutan yang intensif untuk mengetahui penyebab kesulitannya dalam melafalkan beberapa huruf,” ujar sang dokter.