Malam itu, di ruang keluarga rumah Rinto, ibu dan kedua kakaknya menggelar rujakan. Rinto tidak ada di sana. Ia lebih memilih untuk berdiam diri di kamarnya, menghabiskan waktu bersama buku-buku.
“Rinto! Ambilkan sendok sama piring di belakang,” teriakan ibunya sampai ke telinga Rinto.
Dengan enggan, Rinto bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke tempat yang disebut ibunya belakang itu. Kamar Rinto memang terletak paling belakang dari sisi rumah mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan belakang oleh ibunya adalah ruangan terbuka di belakang rumahnya, di mana terdapat sebuah sumur yang berfungsi sebagai sumber air untuk mandi, mencuci pakaian, hingga mencuci perkakas dapur.
Saat hendak mengambil piring dan sendok di belakang, Rinto melihat sesuatu seperti cahaya putih di kebun yang berbatasan langsung dengan sisi belakang rumahnya. Lamat-lamat ia menatap cahaya putih itu dengan tajam. “Astaga!”
Rinto segera masuk ke rumah. Piring dan sendok pesanan ibunya dibiarkan tergeletak begitu saja. Seperti orang kesetanan, Rinto berteriak kencang sekali, “KAPAL PUTIH! KAPAL PUTIH!” Sedang tangannya terus menerus menunjuk ke arah belakang. Ibu dan kedua kakaknya tak habis pikir melihat tingkah aneh Rinto.
“Hei! Kapal putih apa? Kamu ini ngelantur, ya? Sudah cadel, ngelantur pula ngomongnya,” ibu Rinto memaki dengan teriakan.
Namun Rinto seperti tuli dan tidak peduli. Masih seperti orang kesetanan, Rinto berlari keluar rumah melewati pintu depan dan menyusuri sepanjang jalan sembari tak berhenti meneriakkan kapal putih.
***
Pagi hari. Rumah Rinto dipenuhi warga. Orang-orang berkerumun menyaksikan mayat korban ke empat dari keganasan teror harimau putih jadi-jadian. Ibu Rinto meregang nyawa di ruang keluarga dengan luka gigitan di sisi kanan lehernya. Kedua kakaknya berhasil selamat meski mengalami cedera serius dan harus diamputasi salah satu kakinya.
Rinto duduk terdiam dengan tatapan kosong. Ia mereka ulang peristiwa mencekam yang terjadi semalam dalam ingatannya. Ia sudah memperingatkan Ibu dan kedua kakaknya. Ia merasa sudah berteriak dengan jelas: MACAN PUTIH!
Rinto diam. “Mungkin orang-orang memang tak pernah benar-benar peduli dengan ucapan orang cadel,” batinnya.
Midadwathief, lahir di Banyuwangi. Saat ini mengambil kuliah jurusan Akidah dan Filsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.