Baca juga: Tak Ada Patung bagi Tapol – Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 01 Juli 2018)
“Kom op Juffrouw! [4] Angin malam tidak baik untukmu!” ujarku pada wanita kurus itu. Dia menatapku dengan tatapan tajam. Sepertinya sisa-sisa amarahnya masih belum pudar benar. Ia merangkul teman wanitanya yang sedari tadi hanya bisa menangis saja. Menuruni anak tangga dan masuk ke dalam kabin nomor 203.
Sebagai seorang polisi militer, aku hanya bisa mengantar mereka sampai depan pintu kabin. Andai saja pria dan wanita tidak dipisah, mungkin aku bisa menemaninya hingga ke dalam. Namun bau yang tak bersahabat benar-benar menusuk hidungku. Perutku serasa mual dan sesekali aku ingin muntah.
“Kenapa? Mau muntah Meneer! [5]” ujar wanita itu sinis.
“Beginilah yang kami rasakan seminggu terakhir! Ombak tiga hari dua malam di Samudra Atlantik seminggu lalu benar-benar mengocok isi perut kami sehingga luluh lantak semua di sini!” ujarnya dengan ketus.
“Goedendag! [6]” ucapnya sembari menutup pintu kabin dengan keras.
Aku berjalan menyusuri kabin-kabin di Weltevreden, menuju ke arah kamar mandi pusat. Hanya tiga barang yang kutuju saat itu: kain pel, ember, dan sebungkus pewangi. Kubawa ketiganya lalu kuberikan pada penghuni kamar 203.
“Untuk apa kau melakukan semua ini?” ujar nonik penghuni kamar 203 yang aku tak tahu namanya.
“Aku juga manusia, sama sepertimu Juffrouw! Goedendag!” ujarku sambil menyodorkan peralatan itu ke tangannya. Tanpa banyak kata, aku lalu pergi ke arah geladak mencari angin segar. Kulihat wanita itu masih menatapku dengan tatapan penuh tanya. Biarkan saja!
***
“Mungkin ini bisa menghangatkanmu, Meneer!” suara itu terdengar tepat di balik kepalaku, membuyarkan pandanganku pada matahari yang mulai bersembunyi di sudut-sudut langit. Aku pun menoleh ke arah sumber suara itu.
“Juffrouw, kenapa kau di sini? Malam akan tiba dan cuaca di laut sedang tak menentu!” ucapku pada wanita yang sore tadi bersikap ketus kepadaku.
Ia lalu mengambil posisi duduk di sampingku sembari menyerahkan secangkir kopi hangat. Lampu sorot yang terpampang dari atas mercusuar menyeka wajahnya dan entah kenapa dadaku serasa berdetak teramat kencang. Ternyata cantik juga dia.
“Namaku Maretha, Maretha Brienda!” Ia lalu menjulurkan tangannya tepat di hadapan dadaku yang masih saja berdebar.
“Jo… John! Johanes van Dallen,” ujarku dengan bibir bergetar. Dia tersenyum, lalu kedua tangannya menutup mulut dan hidungnya yang mancung. Ternyata dia tertawa! Sial! Wanita itu menertawakanku!