Baca juga: Surga Terjanji – Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 24 Juni 2018)
“Ternyata anggota militer juga bisa grogi, ya!” tawanya semakin keras. Ia membuat pipiku semakin merah. Beberapa rekanku yang lewat pun bersiul-siul menyanyikan lagu cinta. Di akhir siulannya, mereka berkata, “Ehm… waktu istirahat sudah selesai, saatnya ganti lokasi!”
“Beri aku waktu lima menit Tuan, aku ingin memberi oleh-oleh untuk kekasihku!” ujar Maretha manja.
“Oh, baiklah Juffrouw, memang John tak pernah lihat wanita, jadi wajar jika dia gugup begitu!” gelak tawa membahana di atas geladak.
“Hey kalian! Verdomme!” kulempar gelas kopiku ke arah mereka. Mereka lari sambil tetap tertawa-tawa. Ups! Aku sadar bahwa gelas yang kulempaar tadi bukan gelasku, itu gelas milik Maretha.
“Maretha, sorry!” ucapku.
Ia tersenyum lembut dan berkata, “Geen problem! [7] Kau bisa menebusnya dengan cara lain!” pintanya dengan lembut di telingaku.
“Di kabinku diisi oleh empat orang, salah satunya wanita yang hamil lima bulan. Ia membutuhkan persediaan makanan yang cukup. Perbekalanku kuberikan untuknya. Jika kau ada ransum atau makanan yang bisa kami makan, maka kuampuni kesalahanmu!” Ia lalu mengerdipkan mata dan sedikit mengibaskan rambutnya.
Mataku terbelalak, aku semakin sulit untuk berkata tidak. Kuanggukkan kepalaku dan jempol di tangan kananku mengacung pertanda setuju. Tiba-tiba kedua tangannya melingkar di leherku, sejenak kemudian hidungnya yang mancung telah mendorong hidungku dan aku pun merasakan suatu sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Debur ombak di Selat Giblatar mulai menyeruak seiring debur ombak dalam dadaku.
“Bagaimana, lezat bukan oleh-olehku? Kau bisa mengulanginya kapan pun saat kau membawakan ransum ke kabinku! Jaga diri baik-baik, mijn leive!” [8] Ia lalu melepaskan rangkulan tangannya di leherku dan beranjak pergi melenggak-lenggok ke arah tangga. Kembali ke kabin 203.
***
Permintaan dari bidadari laut yang mampu mendebarkan deru jantungku bukanlah perkara rumit. Sebagai polisi militer aku mendapat jatah ransum tiga kali sehari. Semenjak mengenal Maretha, aku hanya makan satu ransum saja. Dua sisanya sengaja kusisihkan untuk belahan jiwaku itu. Bahkan sesekali aku mengantungi roti, sosis, atau apa saja yang ada di dapur untuk kuberikan kepada cinta pertamaku itu.