Baca juga: Mbah Ning – Cerpen Priyo Handoko (Jawa Pos, 17 Juni 2018)
Ketika kedua jarum arloji di tanganku menyatu, menunjuk ke angka 12 dan matahari telah lelap beristirahat, aku sengaja melakukan patroli ke kabin 203. Kuketuk pintu sebanyak tiga kali dan Maretha telah berdiri di balik pintu itu.
Ia selalu saja pandai membuat kejutan, khususnya lewat pakaian yang dikenakannya. Terkadang ia mengenakan pakaian kantor, pakaian olahraga, seragam sekolah, bahkan pakaian renang dan lingerine tipis juga tak segan-segan dikenakannya. Hanya tiga hal yang kami lakukan saat bertemu: kuketuk pintu, kuserahkan dua ransumku, dan dia mendekapku lalu mengkreasikan beragam cara untuk membuatku terusmenerus kecanduan menemuinya.
Tiga minggu aku melewati malam yang luar biasa dengan Maretha. Meskipun pertemuan kami hanya lima hingga lima belas menit, tapi itu sudah cukup untuk menimbun pundi-pundi cintaku padanya. Sesekali aku melihat Maretha naik ke arah geladak di sore hari jika cuaca cerah. Ia menuntun kawannya yang sedang hamil untuk mengajaknya jalan-jalan.
Hampir seluruh polisi militer yang bertugas tahu kisah cintaku dengannya, dan mereka membiarkan saja. Mereka tahu hanya itulah hiburan bagi para marinir yang bertugas mengawal sekitar 200 mahasiswa serta para republiken dan etnis China yang ingin kembali ke Hindia.
Selain pertemuan malam jahanam yang berujung nikmat, kami juga melakukan pertemuan setiap hari Sabtu selama tiga puluh menit. Kami berjanji memilih geladak sebelah timur saat bertemu pada jam empat sore jika cuaca cerah. Saat itulah ia bercerita tentang teman-teman yang sekabin dengannya. Ia juga bercerita tentang keberaniannya menampar salah seorang pelajar Hindia jebolan Leiden di atas geladak ini.
“Pelajar itu bernama Sujai. Di Belanda dia mengaku sebagai anak pemilik pabrik gula dan kawin dengan Hellena, kawanku yang cengeng itu!” tegasnya.
“Lalu kenapa dulu kau menamparnya?” tanyaku.
“Natuurlijk! [9] Dia lelaki pengecut! Di Belanda ia mengumbar cinta pada Hellena dan menjanjikan kehidupan mewah serta beragam rayuan lain. Ia pun menghamili Hellena dalam sebuah perangkap yang disusunnya sendiri. Orang tua Hellena marah dan mengusir putrinya itu. Otomatis Hellena hanya menggantungkan diri pada Sujai dan lelaki itu berjanji akan memberikan kehidupan yang indah di Jawa sehingga Hellena mau dibujuk untuk naik kapal ini.