Prahara di Geladak Weltevreden

Baca juga: Maling – Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 03 Juni 2018)

Mereka membentuk formasi yang rapi: 2-1-2. Satu sekoci di tengah terlihat teramat bagus, berhiaskan rumbai-rumbai mawar beraneka ragam. Di atasnya ada seorang pria berdiri gagah, sedangkan empat sekoci yang mengawalnya terlihat sangat militeristik dengan prajurit bersenjata lengkap. Maretha memberikan amplop padaku dan berkata, “Aku memenangkan ini sebelum aku memenangkan hatimu, Sayang!”

Setelah berucap demikian, ia langsung turun. Beberapa pengawal dari sekoci tadi naik untuk menjemput Maretha.

Gadis manis berhidung mancung itu segera naik ke sekoci utama. Ia menghampiri pria yang berdiri di antara bunga-bunga dalam sekoci itu. Lelaki berambut pirang nan panjang itu lalu bersimpuh di hadapan Maretha dan menyodorkan sebuah kotak kecil. Dengan bantuan teropong, aku melihat isi kotak itu mirip seperti cincin.

Aku langsung naik pitam. Kubuka amplop pemberian Maretha. Amplop itu ternyata berisi potongan koran Belanda, De Waarheid. Di salah satu kolom koran itu terlihat jelas ada foto pria berambut pirang dengan tajuk, ’’SEDANG BUTUH JODOH! PEWARIS TUNGGAL PABRIK GULA BATAVIA”. Di bawah fotonya ada prosedur mengenai cara mengikuti sayembara iklan jodoh ini dan tepat di foto itu ada cap bibir lipstik merah. Pasti itu lipstik Maretha.

Semua orang yang menjadi saksi pertunangan itu bersorak. Beberapa orang bertepuk tangan sambil bersiul. Maretha menerima cincin itu dan lelaki berambut pirang itu segera mengenakannya di jari manis Maretha. Ia lalu berdiri mencium kening Maretha dan memeluknya erat.

Aku melihat semua itu dari atas geladak Weltevreden. Tawa riang orang-orang atas peristiwa romantis Maretha seolah menertawakan kekalahanku sebelum menginjakkan kaki di tanah peperangan. Sorak-sorai meriah, memestakan cawan darah di hati yang terluka parah. Petasan mulai diletupkan, bunga tabur dilemparkan, altar pelaminan seakan nyata di atas bahari.

Aku berlari ke ujung geladak, berdiri tegak membusungkan dada. Menatap mereka sembari mengacungkan revolver ke arah langit. Kutekan pelatuknya tiga kali. Letusan pertama membuat orang-orang gusar. Letusan kedua sorot mata mereka tertuju kepadaku. Dan, sebelum aku meletuskan peluru ketiga, kuarahkan bibir revolver ke arah dadaku yang telah terkoyak dusta.

“Hai Maretha yang terkasih! Di atas geladak ini aku bersaksi, cinta suci yang ternodai akan dihapus dengan darah murni!” Lalu jemariku menekan pelatuk yang tak sabar tuk ditekan. Tubuhku langsung melemas, melesat terjun ke laut dan semua berubah menjadi merah, warna amarah yang memoles bibir perairan Batavia. ***

 

CATATAN:

[1] Keparat

[2] Universitas Leiden

[3] Tunggu

[4] Ayo nona

[5] Tuan

[6] Selamat malam

[7] Tak masalah

[8] Sayangku

[9] Tentu saja

 

Ardi Wina Saputra, penulis buku kumpulan cerpen Aloer-Aloer Merah. Guru Bahasa Indonesia SMA Katolik St. Albertus Malang.

Arsip Cerpen di Indonesia