Prahara di Geladak Weltevreden

Baca juga: Ia Tidak Ingin Mengatakannya – Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 10 Juni 2018)

Setelah di kapal, baru dia mengaku bahwa dia sudah berkeluarga di Jawa dan meminta Hellena agar tidak kaget jika nanti menjadi istri kedua karena dia akan dijemput di pelabuhan oleh istri pertamanya dan anaknya!”

Mendengar cerita yang begitu panjang itu aku hanya mengangguk-angguk saja. Terpaku menatap bibirnya yang terusmenerus bicara, bak dewi yang sedang bersabda tentang cinta. Aku bersumpah pada diriku untuk menikahinya saat tiba di Hindia kelak.

***

“Wah, malam ini kau begitu terlihat menakjubkan!” ucapku melihat Maretha dalam ritual tengah malam kita yang sedang membuka pintu kabin 203.

Dia mengenakan gaun pengantin yang anggun, berwarna putih bersih lengkap dengan kaus tangan dan sepatu kaca. Tak kusangka, nonik yang satu ini menyimpan gaun indah di kopernya. Malam itu ia memelukku lebih erat dari biasanya dan mencumbuku lebih mesra dari biasanya.

“Sayang, bisakah kau mengabulkan satu permintaanku lagi?” ucapnya.

“Tidak mampu lidah ini untuk menolak permintaan darimu, Kasih!” mantap kuucapkan itu padanya.

“Esok, jika kita sudah sampai di Batavia, biarkan aku turun ke sekoci sendiri, kau cukup melihatku dari atas geladak!” Ia langsung mencumbuku lagi agar aku menganggukkan kepala dan tidak banyak bertanya.

Malam itu, setelah menemui Maretha, aku tak dapat tidur atau memang sengaja untuk tidak tidur. Aku menulis surat cinta dan rencanarencanaku bersamanya. Kususun rencana itu serapi mungkin hingga tak terasa cahaya mulai menyembur dari balik jendela kabinku. Pertanda sudah pagi. Surat yang kutulis telah usai kukerjakan. Aku menoleh ke belakang dan aku melihat berlembar-lembar kertas berserakan di bawah kursi. Sedangkan yang ada di hadapanku hanya tiga lembar saja. Tiga lembar yang kutulis dengan penuh doa dan penuh pengharapan semalam suntuk.

***

Keesokan harinya, kapal Weltevreden telah sampai ke Batavia. Para penumpang mulai keluar dari kabin dengan membawa koper-kopernya. Dari atas geladak, aku melihat beberapa orang sudah mulai turun menggunakan sekoci-sekoci untuk menuju daratan Batavia. Sekarang Maretha dan empat temannya ada di sampingku. Kuberikan surat itu padanya dan ia tersenyum.

“Sayang, lihatlah ke sana!” ujarnya. Aku melihat ada lima sekoci berlayar menuju ke arah kapal Weltevreden.

Arsip Cerpen di Indonesia