Kau manggut-manggut. Rasa takut menyusup selembut kabut, mengepul pelan, menyatu membentuk sosok tinggi-besar. Wajahnya seperti tumpukan batu berlumut hitam. Matanya besar dan menyala merah seperti mulut tungku baru saja melumat kayu bakar. Mulutnya seperti lubang sumur tua yang menganga, dan sudah tak seorang pun menimba air di kedalamannya.
Sejak itu, ketakutan membuatmu baru berani tidur sendirian setelah dua kali datang bulan. Itu pun karena sudah lelah mendengar ejekan teman-teman, dibilang bayi menyusu tak henti.
***
Bulan yang mengambang di langit sudah menghitam sebagian ketika kau melemparkan kepingan-kepingan tembikar ke atap rumah.
“Pergilah! Jangan kemari! Tidak ada janin yang bisa kau rampas di sini!” teriakmu, setiap satu lemparan. Sampir sengaja kau lipat di dada untuk menyembunyikan perut yang tak lagi rata.
Jatuhnya tembikar ke genting berdenting. Kelelawar berkelepak di atas wuwungan, bercericit, lalu menghilang dalam kegelapan. Terdengar batuk ibu dari dalam. Kering dan patah-patah. Hanya sebentar.
Baca juga: Kuburan Keenam – Cerpen Muna Masyari (Tribun Jabar, 15 Juli 2018)
Riuh kentongan di kejauhan timbul tenggelam.
Tembikar di tanganmu tinggal satu lemparan. Sebentar kau mendongak, menatap purnama yang menghitam separuh di antara awan kelabu. Sisa sinar bulan meningkahi wajahmu. Dadamu berdebar. Lututmu bergetar. Tanganmu mengelus perut tanpa sadar.
“Katakan, siapa ayahnya!”
“Iya. Katakan siapa lelaki yang menghamilimu!”
Kau menunduk getir. Menggigit bibir.
“Mustahil kau tidak tahu siapa lelaki yang telah menidurimu!”
“Kami tidak mau ada bayi jadah lahir di kampung kami!”
“Betul! Anak jadah hanya membawa sengsara bagi warga!”
“Tidak akan turun hujan selama masih ada perempuan mengandung anak haram!”
“Betul!”
Serempak.
“Kalau tidak mau mengaku, kita usir saja dari sini!”
“Setuju!”
Kembali kompak.