Sepasang binatang gegas berlalu meninggalkan rumput lusuh dan sepasang sandal jepit biru pudar. Keesokan harinya, sepasang sandal yang tertinggal itu sudah tidak ada di tempat.
Kau yakin, duda itulah yang telah membuat pengaduan tentang perutmu yang membesar pada warga sekitar. Karena sejak menyadari perutmu tak lagi datar, kau selalu menghindari berpapasan dengan orang.
Lelaki itu juga yang berteriak paling lantang sewaktu sidang di balai. Pun yang mengusulkan agar kau dikucilkan ke lereng bukit demi menolak kesengsaraan.
“Tidak! Tunggu hingga bayi itu lahir. Selain demi kemanusiaan, paling tidak semoga kita akan tahu siapa ayahnya setelah bayi itu lahir. Apalagi ibunya sedang sakit.” Tolak kepala desa, disusul dengung gerutu penuh kekecewaan.
“Menunggu sampai kapan? Kalau hanya demi kemanusiaan, kita bisa membantu memindahkan rumahnya ke sana.” Tambah di duda dengan jari masih tak lepas dari sebatang rokok mengepulkan asap.
“Betul! Kemarau sudah berbulan-bulan, belum ada tanda-tanda akan turun hujan.”
“Kepala desa seharusnya memikirkan nasib kita juga!”
Sejak sidang di balai desa itu, lelaki penyusup tak kembali datang. Tak ada lagi sentuhan-sentuhan hangat dan amuk berahi yang membuatmu terkapar lemas setelah mendaki puncak kenikmatan. Tiap pertengahan malam kau kerap terjaga, serasa mencium hangat napas dan bau keringatnya.
Baca juga: Celurit Warisan – Cerpen Muna Masyari (Kompas, 11 Desember 2016)
Dalam rindu yang kian tanak, kau mengutuk nasib karena terlahir sebagai perempuan geddhel. Perempuan dengan tubuh berdarah (daging) kotor yang menyebabkan pengucilan dan tak seorang pemuda pun berani meminang hingga kau berusia matang.
Apabila kau terjerang panas matahari, tiba-tiba kujur tubuhmu kemerahan dan gatal-gatal. Lalu kulitmu luka-luka, dan baru berangsur sembuh setelah rutin ditempeli daun sirih yang baru dipanggang di atas bara. Kata warga desa, itu disebabkan kau lahir dari persetubuhan saat ibumu datang bulan, dan darah kotor itu takkan luntur dalam tujuh turunan.
Ketika kau memertanyakan hal itu pada ibu, ia hanya diam dan wajahnya berubah muram. Orang-orang semakin menjauhimu dan melarang anak-anaknya mendekat karena khawatir tertular.