Bulan Berdarah

Suara-suara di balai desa waktu itu kembali terngiang di telingamu. Suara-suara keras meminta nama. Menuntut pengakuan. Melantangkan ketaksabaran. Akan tetapi, nama siapa yang akan kau sebutkan? Pengakuan sebentuk apa yang bisa kau berikan? Hanya desah napas dan bau keringat yang bisa kau ingat.

Kau sendiri tidak tahu, siapa yang telah menyusup ke bilikmu diam-diam, ketika gerimis merintik dan dingin malam mengilukan tulang. Sosok itu menyusup begitu saja. Entah lewat pintu mana. Barangkali pintu samping dapur yang memang tak bisa ditutup rapat.

Sejak ibumu sakit, bilikmu juga jarang dikunci sebab harus bolak-balik memeriksa keadaannya. Kadang kau dipanggil jika membutuhkan apa-apa. Untuk menghemat minyak tanah, bilikmu kau biarkan tak berdamar. Dengan membiarkan pintu sedikit terkuak, damar teplok di ruang depan cukup mengirim sebatang cahaya buram hingga bilikmu tak berselimut kelam.

Kau tersentak jaga dan baru menyadari kehadiran lelaki itu ketika tubuhmu sudah erat dalam pelukannya. Wajahmu hangat oleh desah napasnya. Mulutmu terbekap tangan beraroma tembakau, hingga kau tak bisa berteriak, dan akhirnya menyerah pasrah seperti sampah dalam gemulung ombak. Usiamu sudah cukup matang untuk merindukan sentuhan-sentuhan.

Baca juga: Kasur Tanah – Cerpen Muna Masyari (Kompas, 17 September 2017)

Bilikmu yang suram menggelapkan wajah dan tubuhnya. Entah siapa dia.

Dalam desah napasnya yang berat, ingatanmu langsung mengembara pada sebuah peristiwa suatu senja, sewaktu mencari kayu bakar. Tanpa sengaja kau melihat sepasang manusia bertindihan dalam erangan dan rintihan di balik semak belukar. Sebuah tontonan yang membuat darahmu mengalir deras dan selalu ingin menyaksikan tontonan serupa di hari-hari berikutnya.

Tiga kali penyusup itu datang pada pertengahan malam, ingatanmu selalu mengembara pada sepasang manusia di balik semak belukar, seakan dirimulah yang tengah kau saksikan di sana. Hingga suatu hari kau baru menyadari perutmu semakin berisi.

Dan, pada senja yang mulai menua, sepasang manusia di balik semak belukar menyemburmu dengan umpatan-umpatan kasar karena kau ketahuan tengah mengintip perbuatan mereka. Pada saat itulah kau bisa mengenali keduanya.

Duda yang telah memerangkap istri orang dalam jerat-jerat pengkhianatan itu memelototimu dengan gusar sambil membenahi pakaiannya yang berantakan. Dari mulutnya caci-maki berlesatan, menghujam. Matanya semakin membulat ketika melihat perutmu tampak mencuat. Memercik rasa heran. Si perempuan beringsut pergi sambil membetulkan tali kutang.

Arsip Cerpen di Indonesia