Kau pun belajar memusuhi matahari, dan hanya menyukai bulan yang tak pernah memilih teman. Tapi malam ini, purnama gerhana bisa jadi petaka bagi bayi yang sedang kau kandung. Sebentar lagi. Sebentar lagi Bhuta akan berkeliaran, ketika bulan berlumur darah dan gelap menyungkup alam. Dan kau harus menghadapinya sendirian.
Bunyi kentongan di bawah sana saling tindih. Lampu listrik mengerlip dari rumah-rumah warga mirip bintang berjatuhan. Sementara di sekelilingmu, semakin bulan terpagut, gelap kian menyelimut. Rumahmu yang teronggok sendirian di antara pohon-pohon besar sebentar lagi akan meringkuk dalam kegelapan.
“Kumohon pergilah! Jangan kemari! Tidak ada janin yang bisa kau rampas di sini!” seiring tembikar terakhir kau lempar, suaramu bergetar dan dadamu keras berdebar.
Kemudian, kau memukul kentongan tiga kali di tengah-tengah halaman. Lalu mengguncang pohon-pohon kurus di seputar halaman dan memukuli batang-batang pohon yang hampir sebesar pelukan. Membangunkannya agar terjaga dan waspada dari bala. Dari kehadiran Bhuta.
Baca juga: Somber Tomangar – Cerpen Muna Masyari (Radar Surabaya, 15 April 2018)
Kelelawar berkelebat melintasi halaman seolah tengah mengabarkan kebangkitan Bhuta.
Segera kau berlari ke dalam. Mengunci pintu. Terdengar batuk ibu dari biliknya. Kau menengok sebentar. Hampir lima tahun perempuan ringkih itu telentang lumpuh. Matanya terpejam. Tulang rusuknya berbaris serapi tulang ikan. Kau mendekat, menarik sampir yang melorot hingga menutupi dadanya. Ia membuka mata. Menatap sayu.
“Kudengar bunyi kentongan,” suaranya yang hampir tak terdengar dipungkasi batuk kering yang patah-patah.
“Bulan gerring.”
Mendengar jawabmu, wajah tirusnya diliputi kecemasan.
***
Tabuh kentongan masih ramai terdengar dari kejauhan, pertanda purnama belum kembali ke wujud semula. Kelepak dan cericit kelelawar tertangkap samar di atas rumah. Padahal gigimu sudah terasa ngilu menggigit sebilah pisau. Punggungmu sekaku kayu. Bayi dalam perutmu menendang-tendang sejak tadi, seolah ikut merasakan kegentingan yang terjadi. Atau barangkali ia tidak merasa nyaman dengan posisimu yang meringkuk di kolong ranjang.
Baru saja kau mengelus perut agar bayi di sana lebih tenang ketika pintu perlahan terbuka. Gerak cahaya di lantai menandakan lidah damar teplok di bilikmu meliuk-liuk tertiup angin. Sepasang kaki memasuki bilik dengan langkah hati-hati.
Jantungmu berdegup keras. Lututmu bergetar. Kian kuat gigimu menggigit sebilah pisau.