Kisah Cinta Paling Sederhana di Dunia

Jarum jam menunjukkan pukul 00.45 WIB

“Lebih baik kau istirahat saja. Ini sudah larut malam. Percuma kau berhenti merokok tetapi waktu tidurmu tak teratur.” Perempuan dengan rambut bercahaya dan kulit keriput itu melirik lelakinya yang duduk di sofa dengan mata tak lepas dari layar kaca televisi.

“Jangan membahas rokok. Aku sudah berhenti merokok dua puluh lima tahun silam.” Jawab lelaki tua itu tanpa menoleh.

“Tapi efeknya bahkan bisa sampai enam puluh tahun mendatang.”

“Nona, kau tampak sangat pendendam setiap membahas soal rokok. Aku tahu cintamu padaku telah melampaui batas jatah usiamu.” Tangannya sibuk memainkan tombol remote televisinya.

“Kau cerewet.”

Keduanya lalu terkekeh.

Baca juga: Musim Panen dan Hewan Kurban – Cerpen Ali Satri Efendi (Radar Banyuwangi, 26 Agustus 2018)

“Kau yang segera istirahat. Tak ada gunanya kau membahas sesuatu yang sudah selesai. Aku tahu kau sangat mencintaiku,” kilahnya. “Aku memahami cintamu yang sangat egois itu. Kau bahkan cemburu pada televisi yang kutatap dalam-dalam dengan segenap perasaanku. Istirahatlah, Nona. Aku akan segera menyusul. Besok malam audisi pelawak itu akan diputar ulang oleh stasiun televisi kesayanganmu,” ujar lelaki itu panjang lebar. Kecerewetan lelaki terkadang mengalahkan kecerewetan perempuan.

Lelaki itu menoleh ke sisi yang tak jauh dari sofanya. Perempuan dengan rambut bercahaya itu tampak lelap menyelonjorkan kakinya. Tubuhnya rebah di dipan ukir yang beralas busa tebal. Kepalanya disanggah bantal bermotif batik. Angin malam yang memerihkan mata menyusup melalui kisi-kisi jendela cukup besar yang didominasi oleh kaca bening. Tirai berwarna krem semitransparan yang melapisinya bergerak-bergerak memacu embusan angin.

Lelaki itu bangkit dari duduknya, persendiannya berkedut setiap kali digerakkan. Ia berjalan mengendap-endap ke arah perempuannya, lalu diselimutinya seluruh tubuh yang masa mudanya nyaris tak kenal istirahat itu. Ditutupnya kisi-kisi jendela dan tirai. Sungguh bila memungkinkan, ia sebetulnya akan marah besar kepada angin yang berembus memilukan. Ia akan marah pada apa pun yang mengganggu perempuannya.

Rumah bergaya kolonial Belanda dengan beberapa sentuhan modern di bagian eksterior itu selalu sunyi bila kedua penghuninya tak beradu mulut. Keduanya tak mau dikalahkan oleh suara desau angin perkebunan, lolongan serigala malam, kerik jangkrik yang berderit-derit, atau suara penggorengan yang beradu dengan spatula.

Arsip Cerpen di Indonesia