Kisah Cinta Paling Sederhana di Dunia

Rumah kecil berhalaman luas dengan ayunan yang berada di tengah-tengah dataran tinggi perkebunan teh itu tak pernah sunyi. Ia selalu riuh dengan doa dan kenangan. Pemetik teh yang setiap pagi melintas di depannya akan selalu merasakan aura kebahagiaan itu.

***

Suara air mendidih dari cerek di atas kompor dengan api biru yang menyala. Rani menyegerakan langkah ke dapur untuk mematikan kompor. Tubuh perempuan itu bersimbah keringat, beberapa bagian bajunya tampak basah. Sekali ia beraktivitas di rumah, semua pekerjaan harus beres. Sembari menjerang air, ia membersihkan rumah, menyiram tanaman, atau pekerjaan lain yang bisa dikerjakan sekaligus. Ia menjerang air untuk mandi air hangat suaminya sepulang kerja.

“Ibu… Ibu…” seorang gadis kecil dengan rambut dikepang berlari-lari kecil ke arahnya. “Ayah mana? Kok belum datang sih? Ini kan sudah sangat sore?” Gadis kecil yang kini duduk di bangku nol kecil taman kanak-kanak itu menekuk mukanya yang menggemaskan.

“Ayah dalam perjalanan pulang, Sayang.”

“Tapi tidak pergi sama Tante Rok Mini lagi kan, Bu?” Tanya gadis kecil itu dengan wajah polos.

Baca juga: Azan untuk Bapak – Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Agustus 2018)

Rani tersentak mendengar pertanyaan gadis kecilnya itu. Cangkir yang ia pegang tiba-tiba jatuh. Beling-beling tajam berserakan di lantai. Gadis kecil yang hanya paham bahwa ayah dan ibu sangat menyayanginya itu menyingkir dari dekat ibunya, lalu berlari-lari kecil meninggalkan dapur sambil bernyanyi riang.

Kemarin lusa, Roy ke sekolah putrinya untuk mengantarkan bekal makanan yang tertinggal di mobilnya. Gadis kecil itu mendapati ayahnya datang dengan seorang wanita berambut panjang, bergincu merah, dan mengenakan rok mini. Kecerdasan gadis kecilnya membuat suatu kesimpulan yang berbeda dari kebanyakan anak kecil lain seusianya, sehingga ia memahami apa yang tengah terjadi antara Ayah, Ibu, dan wanita asing itu.

Hampir dua minggu setelahnya, suatu malam yang amat terasa mencekam ditingkahi suara hujan deras dan petir yang menimbulkan denyar-denyar pada kaca jendela.

“Sayang, kamu hamil lagi?” Roy menunjukkan surat keterangan dari dokter yang ia temukan di laci meja riasnya kepada Rani.

“Ya.” Jawab Rani singkat. Ia berdiri di sisi jendela.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” Roy menyentuh pundak Rani. Rani menoleh.

“Aku takut mengganggu kencanmu dengan perempuan rok mini itu.”

“Apa maksudmu?” Wajah Roy memucat.

Arsip Cerpen di Indonesia