“Kau tidak usah berpura-pura menanyakan itu. Kau tidak usah kaget.”
“Jelaskan, apa maksudmu?”
“Apa yang perlu kujelaskan setelah melihatmu secara langsung makan berdua dengan perempuan itu, tak lama setelahnya kalian masuk ke sebuah losmen di pinggir pantai, sampai pagi aku menunggui kalian yang ternyata asyik bercumbu mesra. Tidak tahu malu! Kau pikir aku tidak tahu itu?!” Rani dikuasai amarah. Intonasi bicaranya tajam, napasnya bergemuruh, dan wajahnya memerah.
“Rani, biar kujelaskan semua itu.”
“Aku sangat tidak butuh penjelasanmu. Nia sudah paham semuanya.” Sekonyong-konyong Rani membuka lemari dan mengeluarkan semua pakaiannya, mengambil tas pakaian dan memasukkan pakaian itu ke dalamnya.
Sebagai istrinya, Rani tetap merasa sebagai perempuan paling baik sedunia dalam hidup Roy. Mutlak harga mati. Maka ia merasa bila kebaikannya disia-siakan, ia memilih untuk membangun jarak dengan suaminya itu. Jarak antara cinta dan kepercayaan.
Baca juga: Ada yang Mencuri Imajinasiku – Cerpen Eni Kusuma (Radar Banyuwangi, 12 Agustus 2018)
“Kau mau ke mana? Di luar hujan. Biar kujelaskan…” Roy meraih tangan istrinya, tapi lalu ditepis dengan kasar.
“Lebih baik panggil perempuan itu untuk tinggal di sini, aku sudah mengundurkan diri dari panti asuhan. Nia akan kuajak pulang ke rumah kakeknya.”
“Rani, aku mohon…” Roy mencengkeram tangan Rani, lagi-lagi tak berhasil ia tahan.
Nia yang ternyata menguping pertengkaran Ayah Ibunya dari balik pintu kamarnya, diajak Rani untuk pergi dari rumah itu. Gadis kecil itu tak banyak bertanya, ia hanya menuruti ajakan ibunya. Anak perempuan sekecil apa pun, akan banyak merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya.
Jarum jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Honda Accord 78 itu menerobos hujan di atas aspal jalan raya yang sepi. Mata Rani selalu awas pada ketiga spion mobilnya. Gadis kecil yang duduk di sampingnya itu diam seribu bahasa. Jauh di hati kecilnya, ia sudah menebak apa yang akan dilakukan ibunya.
Dua belas tahun usia pernikahannya kini berada di ambang perceraian. Ia betul-betul tak menyangka, lelaki yang selalu dibanggakannya, sosok yang nyaris sempurna di matanya, lelaki pilihan yang sekali ia ajukan pada kedua orang tuanya langsung mendapat restu. Tak menunggu lama, lusa keduanya langsung dinikahkan. Lelaki yang ia junjung tinggi kehormatannya, lelaki yang dingin di hadapan perempuan lain dan hangat pada dirinya, tega mencampakkan dirinya dan masa depan keluarganya. Tega menginjak-injak kehormatan keluarganya di hadapan janji pada Tuhan atas sakralnya pernikahan. Hancur sudah bangunan istana mereka. Adakah perempuan yang mau menjanda? Ia pikir, tak ada. Tapi apa yang bisa diperbuatnya?
***