Siapa Pembunuh Mira Marcela

Kemudian seorang banci, seorang mucikari dan seorang penjual jagung bakar di trotoar Jalan P Ramlee. Majikan perempuan sering mengajaknya ke diskotek The Beach untuk menemani berdisko semalam suntuk, membantunya melarikan diri. Lantaran caranya kelewat rumit dan cenderung bertele-tele, sampai menciptakan drama percintaan segi empat segala. Kupikir bagian ini juga tak perlu diceritakan di sini.

Mira Marcela kembali ke Indonesia. Tadinya dia berniat langsung pulang ke kampungnya. Satu desa kecil di Raba, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Diurungkannya. Dia berbelok ke Medan.

Baca juga: Ziarah Lebaran – Cerpen T Agus Khaidir (Media Indonesia, 27 Juli 2014)

Saat masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga, Mira Marcela pernah beberapa kali bercakap-cakap dengan tetangga majikannya. Seorang perempuan muda, Tionghoa, masuk Islam setelah dinikahi pemuda Melayu sebelum sempat menyelesaikan kuliah di University of Malaya.

Didorong solidaritas kebangsaan atau memang sungguh-sungguh prihatin pada nasib Mira Marcela. Perempuan ini menawarinya bekerja di kedai kopi, di kawasan Kota Tua yang dimiliki pamannya. Seolah paham betapa semangat menyanyi Mira Marcela sesungguhnya tak pernah padam. Perempuan ini juga bilang pamannya mengelola band Sering diundang mengisi berbagai acara yang digelar pengusaha dan pejabat-pejabat di Medan.

Berkat lobinya Mira Marcela diterima bekerja. Tugasnya mencatat dan mengantarkan pesanan. Dia cekatan dan ringan tangan. Meski tak wajib baginya, tiap kali pengunjung sedang sangat ramai, dia selalu membantuku meracik kopi atau membuat roti bakar. Kopi dan roti bakarnya dipuji bercita rasa nikmat.

Baca juga: Singgah di Omerta – Cerpen T Agus Khaidir (Media Indonesia, 22 Januari 2017)

Waktu itu usianya 33. Tujuh bulan pun berselang. Pada satu petang menjelang malam masih menyisakan gerimis tajam. Seorang remaja tukang semir sepatu bernama Ujang Rambo menemukannya tertelungkup tak bernyawa di gang sempit di belakang kedai. Tubuhnya dibungkus jas hujan berwarna coklat muda. Kepalanya disungkup rambut palsu pirang. Terdapat sejumlah tanda kekerasan pada tubuhnya. Diduga kuat, dia juga diperkosa.

Tadinya aku bermaksud memulai cerita dari sini. Kukira ada baiknya kujelaskan sedikit perihal riwayat Mira Marcela. Sekadar supaya kalian percaya betapa kadangkala hidup bisa berjalan dengan cara-cara yang ajaib dan serba menjengkelkan.

Rahmat Yanis, polisi berpangkat Brigadir Kepala. Seorang di antara polisi yang menangani kasus kematian Mira Marcela, membawaku ke salah satu adegan puncak Chungking Express. Menit 38 detik 25, saat perempuan berambut palsu pirang meletuskan pistol ke kepala lelaki bandar heroin. Menurut dia, dalam kasus ini, pelaku melakukan rekonstruksi terbalik.

Arsip Cerpen di Indonesia