Aku tak begitu paham maksudnya. Bahkan setelah menonton pun tetap gagal paham. Terus terang, aku tidak suka film ini. Menontonnya membuatku jadi teringat pada Mira Marcela. Betapa sulit dipercaya dia mati dengan cara begitu rupa.
Selang 24 jam pasca penemuan mayatnya, polisi menahan Ujang Rambo dan Awang Wijaya, adik pemilik kedai.
“Motifnya dendam karena hasrat pada korban tak kesampaian,” ujar Rahmat Yanis.
Cerita seperti ini sebenarnya sudah terlalu umum. Banyak di antara pelanggan kedai kopi menyimpan hasrat serupa. Termasuk Rahmat Yanis. Bukan tanpa alasan. Belakangan ini dia makin rajin datang ke kedai lalu duduk ngopi berlama-lama. Mira Marcela pernah bercerita betapa sering Rahmat Yanis menggodanya.
Baca juga: Bintang Maratur Tak Bertuan – Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 20 Mei 2018)
“Bapak itu suami orang, Bang. Aku tahu anaknya empat, masih kecil-kecil. Aku nggak mau jadi perusak rumah tangga orang,” katanya.
Dari semua pemuja Mira Marcela, cuma Awang yang tak sungkan berterus terang.
“Piye? Gelem opo ora?” ucapnya, lalu matanya mengedip nakal. Meski sudah berkali-kali dijelaskan, Awang tetap saja menganggap Mira Marcela orang Jawa.
Sejumlah fakta membuat aku meragukan teori Rahmat Yanis. Mira Marcela mampu bertahan hidup di panggung dangdut dan selamat dalam penyekapan berbulan-bulan. Dia juga lolos dari tiga percobaan pemerkosaan. Jadi siapa pun pelakunya, menurutku, pastilah punya semangat dan kekuatan besar untuk menghabisi. Aku sungguh yakin pula, Awang tak masuk golongan ini.
Dua tahun lalu dia dihantam strok yang membuat tubuhnya mati sebelah. Walau kemudian membaik, ada bagian-bagian yang tak lagi berfungsi seperti sediakala. Godaan-godaannya pada Mira Marcela, saya kira, sekadar iseng atau mungkin juga semacam upaya menghibur diri.
Baca juga: Ketika Batu Itu Merapat – Cerpen Fadmin Prihatin Malau (Analisa, 10 Juni 2018)
Ujang Rambo bertubuh tinggi dan bongsor meski baru berusia 14. Dari sisi ini dia pantas dicurigai. Persoalannya, Ujang punya alibi kuat. Hasil visum seperti disiarkan koran-koran menunjukkan Mira Marcela tewas sekitar 12 jam sebelum ditemukan. Kemungkinan, pembunuhan terjadi antara lepas tengah malam hingga menjelang Subuh.
Di waktu yang sama, Ujang Rambo bersamaku. Kami bermain catur. Seingatku, sampai pertarungan berakhir di pelat kesepuluh, dia hanya keluar kamar tiga kali. Dua kali untuk kencing dan sekali untuk membikin kopi kami berdua. Mustahil dia membunuh—dan sekaligus memperkosa (?)—dalam tempo sesingkat itu. Apalagi mendandani Mira Marcela menyerupai Brigitte Lin.