Ujang Rambo juga bukan sebangsa orang yang menonton film untuk mencermati cerita. Dia benar-benar hanya peduli pada ledakan, ciprat darah dan adegan ranjang. Demikian pula Awang yang memuja Ti Lung, Chen Kuan-tai, Fu-Shen. Juga aktris jebolan panggung Opera Kanton, seperti Ivy Ling Po. Bruce Lee dan Jacky Chan, disebutnya bintang muda yang gesit berkelahi. Pengetahuannya tentang film berhenti sampai di sini.
Kalian tentu sepakat, orang-orang seperti ini rasa-rasanya tak mungkin mampu secara detail merekonstruksi adegan puncak Chungking Express. Terlebih-lebih dalam bentuk terbalik.
***
Ada perempuan baru di kedai. Setengah baya bertinggi sedang, berperawakan gemuk. Tak pernah lepas dari songkok dan selalu berkain panjang. Riwayatnya dalam mencari nafkah paling banyak dihabiskan dengan berjualan tiwul dan jamu gendong. Dia dari kampung ke kampung di Gunung Kidul, Yogyakarta. Namanya Siti Marlena. Dia minta disapa Mak Len.
Baca juga: Dermaga Kecil di Sudut Desa – Cerpen Remli Nelmian Simarmata (Analisa, 03 Juni 2018)
Tahun 1979, Mak Len pindah ke Medan mengikuti suaminya Partono yang terobsesi bermain untuk PSMS. Semangat Partono ternyata jauh meninggalkan bakatnya.
Upaya ini kandas. Partono tewas dalam kecelakaan lalu lintas pada 25 Februari 1985. Becak yang dikemudikannya menghajar punggung truk. Dia buru-buru ke Lapangan Merdeka untuk ikut pesta perayaan keberhasilan Ayam Kinantan menjuarai Kompetisi Perserikatan.
Mak Len bekerja rajin. Untuk ukuran perempuan seusianya terbilang cukup cekatan pula. Terpenting—paling tidak sampai sejauh ini—dia jujur. Sekitar lima menit lalu dia menyerahkan satu unit telepon selular kepadaku.
“Mak nemu di kamar mandi,” katanya.
Baca juga: Perempuan XXX – Cerpen Abul Muamar (Analisa, 15 Oktober 2017)
Seperti ini sering terjadi. Biasanya, setelah diteriaki si empunya barang yang sembrono akan mendekat dengan langkah malu-malu. Belum sempat aku teriak, telepon selular serahan Mak Len bergetar. Intro yang khas, lalu sebait syair.
It’s not everyday we’re gonna be the same way
There must be a change somehow.
Jantungku serasa copot. Meski tak suka, bayangan Chunking Express masih sangat jelas. Thing in Life, lagu Dennis Brown ini tak banyak dikenal sebelum Wong Kar-wai mencomot dan memperdengarkannya sebanyak empat kali. Sampailah pada adegan puncak di menit 30:25 itu.
Kusapu pandangan ke sekeliling kedai. Apakah pembunuhnya masih di sini?
Kuala Lumpur-Medan-Jakarta, 2013-2018.