Danau dan Sepotong Cerita

Perempuan itu tidak saja keras, tetapi juga jarang mengurusi anaknya dan hampir tidak pernah mempedulikan Iyas, suaminya. Hal yang terpenting baginya adalah ia dapat memberikan segala sesuatu yang diinginkan anak semata wayangnya. Karena menurutnya segalanya bisa dibeli dengan uang. Dengan uang itu, ia bisa membeli mobil, rumah, mengupah pembantu, jalan-jalan ke luar negeri, atau sekadar jajan di luar rumah dan mentraktir teman kerjanya di kafe dekat kantor. Sementara, ia selalu melarang-larang suaminya melakukan sesuatu, tapi tak pernah sedikit pun menger ti yang dikehendaki suaminya itu. Masalah setelan baju, dasi, atau tas kerja tidak pernah sedikit pun digubrisnya. Yang ada di pikirannya hanya uang, uang, dan uang.

Aku pernah secara tidak sengaja mendengar percakapannya dengan anak lelakinya, yang masih berusia delapan tahun.

Baca juga: Mengendalikan Arah Angin – Cerpen Fina Lanahdiana (Suara Merdeka, 28 Januari 2015)

“Bu, Tiar ingin ibu memasak untuk Tiar. Tiar bosan dengan masakan Mbok Nah yang itu-itu saja.”

“Sama Mbok Nah saja, ya. Ibu masih sibuk.”

“Tapi, kan …”

“Sudah, ya. Ibu pergi kerja dulu. Nanti biar Ibu minta Mbok Nah untuk memasak makanan kesukaan Tiar. Ibu kerja kan untuk Tiar juga.”

Ah, perempuan itu selalu saja punya alasan untuk menolak permintaan anaknya. Mestinya itu bukanlah permintaan yang sulit bagi seorang ibu. Bukankah sudah patut ia curahkan rasa kasih dan sayangnya untuk anaknya? Tidak melulu yang ada di pikiran selalu saja uang.

Ia menciumi kedua pipi anaknya, kemudian bergegas mempercepat langkah sepatu hak yang menyerupai sepatu kuda, tik-tok-tik-tok! Kontan saja wajah anak lelaki itu berubah masam, seperti buah yang terlanjur panen sebelum masak.

Baca juga: Menanak Batu – Cerpen Fina Lanahdiana (Republika, 12 Maret 2017)

Diam-diam suami perempuan itu kerap mengeluarkan seluruh isi kepala kepada Juan, teman dekatnya. Ia sering kali membusakan mulutnya yang berisi segala macam keluhan mengenai istrinya itu.

“Menurutmu, apa yang meski kulakukan terhadap istriku?”

“Terserah kau saja. Namun mestinya kau nasihati istrimu itu. Kuperhatikan selama ini kamu saja yang kurang tegas terhadapnya,” sergah Juan.

“Aku kurang tegas? Kau belum tahu saja, bagaimana menakutkannya istriku saat sedang mengamuk. Aku hanya tak ingin mencari masalah terhadapnya. Mestinya kau tahu itu.”

Arsip Cerpen di Indonesia