“Kau terlalu lemah. Makanya ia seenaknya terhadapmu.”
Iyas sering kali berpikir, selama sem bilan tahun ini hampir tak pernah ia mendapat sambutan hangat dari istrinya. Bahkan, ketika ia kelihatan sangat letih. Bajunya penuh dengan peluh yang memenuhi sekujur tubuh. Ia mencoba berulang kali mengetuk pintu dengan sekuat tenaga, tapi tak sekali pun jawaban dari balik pintu ia dapatkan. Barangkali Mbok Nah tengah sibuk merampungkan pekerjaannya, sementara perempuan itu masih asyik menghamburkan uangnya.
Sebagai seorang lelaki yang mempunyai istri, sudah sepantasnya jika ia mendapatkan sambutan hangat saat tubuh merasa lelah sepulang kerja, lalu bersegera membawakan tas dan menyeduhkan secangkir kopi panas, atau sekadar memberikan pijitan kecil pada persendian yang kaku setelah seharian bekerja.
Baca juga: Apakah Ia Harus Mengunci Pintu? – Cerpen Fina Lanahdiana (Media Indonesia, 08 April 2018)
Namun, tidak. Tidak demikian untuk Iyas. Ia justru harus menahan segala kepahitan yang ditanggungnya. Ia selalu melakukan pekerjaanya sendiri tanpa bersusah payah meminta bantuan pada istrinya. Mulai bangun tidur, menyeduh kopi, menyiapkan setelan baju, tas kerja, sepatu, serta berbagai rangkaian pekerjaan lain ia kerjakan sendiri.
Pak lurah pernah bercerita kepadaku, ia sangat bosan jika harus berkunjung ke rumah perempuan itu. Bukan, bukan karena rumah itu berhantu, tapi karena tak pernah sekali pun pak lurah berhasil bertemu penghuni rumah, hanya ada aku dan Mbok Nah yang tidak punya urusan dengan Pak lurah. Mereka terlalu sibuk, bahkan untuk sekadar menyapa tetangganya. Bagi mereka siang dan malam hampir tidak ada bedanya. Malam bisa saja menjadi siang, dan siang pun bisa menjadi malam.
***
Tetangga Srukat, perempuan itu, kerap menggunjing karena hampir setiap harinya tak ia luangkan untuk anak dan suaminya. Ia selalu menyerahkan urusan anak kepada Mbok Nah.
Baca juga: Lelaki Pengurus Orang Mati – Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Republika, 16 September 2018)
Sepulang kerja, perempuan itu langsung merebahkan tubuhnya, yang ia anggap ramping itu, ke atas tumpukan kasur. Ah, siapa bilang tubuhnya ramping? Itu hanya pujiannya saja untuk menghibur dirinya sendiri. Siapa lagi?
Iyas adalah lelaki yang cukup sabar dan setia. Kalau suami Srukat adalah lelaki lain, mungkin saja saat ini sudah memilih pergi. Banyak di luar sana yang masih lebih menawan dan lebih memiliki kepedulian ketimbang Srukat.
Pernah juga suatu kali anaknya mengadu.
“Bu, kapan ibu bisa menemaniku ke danau? Aku jenuh di rumah terus. Mainan yang ibu belikan tidak mengubah apa pun. Aku tak mengerti apa-apa yang ada di luar sana. Sedangkan, ibu selalu sibuk keluar rumah, yang ibu bilang bekerja itu. Mbok Nah juga tak selalu bisa menemaniku karena ia sibuk membereskan pekerjaan.”