“Nanti kalau pekerjaan ibu sudah selesai, lagi pula ayahmu masih banyak urusan.” Bicaranya kasar, mungkin saja ia terlampau lelah.
“Kapan Ibu ada waktu? Apa perlu aku menceburkan diri ke dalam danau, baru Ibu akan mencari-cari beradaku? Atau justru itu yang Ibu harapkan?”
Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
Biji matanya yang cokelat kehitaman memancarkan tatapan tajam ke arah anaknya. Ia seolah tak percaya, anak semata wayangnya berkata demikian kepadanya. Ia menundukkan wajahnya, mungkin ia hatinya sedikit tergugah bahwa selama ini ia telah salah memperlakukan keluarganya.
Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)
“Bukan itu maksud Ibu.”
“Lalu? Aku bahkan tidak mengerti apakah Ibu masih menganggapku sebagai anak.”
Perempuan itu semakin tercengang. Kepalanya tiba-tiba mendongak dengan dua biji mata yang semakin berkaca-kaca. Kemudian beranjak dari duduknya di atas dipan di teras rumahnya.
***
Biarkan perempuan itu memilih ceritanya sendiri, barangkali menjadi dengan terlebih dahulu menjadi orang lain akan mengubahnya menjadi dirinya yang seutuhnya.
“Mbok, mana Tiar? Katakan padanya, ada oleh-oleh untuknya. Dan sampaikan juga, besok lusa aku dan Mas Iyas akan mengajaknya ke danau.”
“Em. Anu, Nyonya …”
“Kenapa Mbok?”
Baca juga: Sarung untuk Bapak – Cerpen Arie Fajar Rofian (Republika, 09 September 2018)
“Den Tiar tidak pulang sejak empat hari yang lalu,” ungkap Mbok Nah resah.
“Apa? Kenapa kamu tidak menghubungiku atau Mas Iyas?”
“Sudah berkali-kali, Nyonya. Maafkan saya.” Wajah Mbok Nah seketika lesu dan tak berdaya.
***
Ingatan Srukat membawanya pada sederet kalimat paling hening, “Kapan Ibu ada waktu? Apa perlu aku menceburkan diri ke dalam danau, baru Ibu akan mencari-cari beradaku? Atau justru itu yang Ibu harapkan?” Lidahnya tercekat. Ia berlari dengan kecepatan yang hampir menyerupai kilat yang menyambar-nyambar ketika hari menjelang turun hujan. Sampailah ia pada tepian danau. Kemudian memanggil-manggil nama anaknya. Hening. Tidak ada jawaban. Di kepalanya berkelebat sederet kalimat, “Kau akan menyesal kelak, perempuan muda. Sebab perlakuan anakmu sendiri!”
Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.