Mas Ustadz Suka Sama Mbak Narti

Sudung sendiri tak terlalu menghiraukan berapa banyak bukunya yang dipinjam sahabatnya itu. Dia hanya berharap apa yang dibaca teman barunyanya itu bisa masuk meresap ke benak Bono. Dengan begitu Bono tak hanya bisa mengajar ngaji, tapi juga bisa bertambah luas wawasannya.

Sudung tau, lelaki perantau asal Mojokerto itu tak seberuntung dirinya. Punya orangtua berkecukupan dan mampu menyekolahkannya, hingga jadi sarjana sastra. Kemiskinan telah yang membawa Bono jadi perantau dan terdampar di Desa Sidodadi. Beruntung Bono pernah belajar di Pesantren dan pintar mengaji. Pak Rustam pun, Kepala Desa Sidodadi, menawarinya untuk jadi guru ngaji anak-anak desanya.

Baca juga: Siapa Pembunuh Mira Marcela – Cerpen T Agus Khaidir (Analisa, 16 September 2018)

Dengan roman Buya Hamka di tangannya, Bono coba mereka-reka kehidupan macam apa yang kelak akan dihadapinya di desa ini. Dia memang belum lama di desa ini. Baru sekitar lima bulan saja. Langkah kaki dan peruntunganlah yang menambatkan tubuhnya di desa ini. Sebuah desa perkebunan dengan udara yang sejuk. Dengan penduduk yang mayoritas bersuku Jawa dan ketulusan warga yang luar biasa.

Sudung bukan orang Jawa. Lelaki terpelajar yang jadi teman baiknya itu justru bermarga Simanjuntak. Adalah Sudung pula yang memperkenalkannya pada Pak Rustam dan meminta Kepala Desa itu mengangkatnya jadi guru ngaji anak-anak Sidodadi.

Diiringi angin semilir yang masuk dari jendela, Bono terus membaca. Larut dalam pengembaraan imajinatif yang dilukiskan Buya Hamka dalam lingkungan “Poenale Sanctie” puluhan tahun lalu.

“Aku beruntung,” pikirnya. “Dulu pastilah banyak caci-maki, penderitaan, hukuman dan bahkan siksaan yang diterima orang-orang Jawa di tanah Sumatera ini,” pikirnya lagi.

Baca juga: Ciprut Melihat Badut – Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 09 September 2018)

Angin senja keras menerobos masuk dari jendela rumah Bono yang terbuka. Lelaki itu menguap. Baru saja hendak meletakkan buku tua di atas meja, dari pintu rumah yang tak terkunci terdengar ketukan. Bono menoleh dan tampak terkejut bukan kepalang. Refleks dia melompat bangkit menyambar kain sarung yang dia sampirkan di sandaran kursi.

“E… e… eh, tunggu, tunggu, jangan masuk dulu…” Serunya sambil buru-buru melilitkan kain sarung ke tubuhnya. Dari luar rumah terdengar suara perempuan tertawa geli. Sambil mengenakan kemejanya, Bono melangkah menuju pintu. Di luar, seorang gadis belia berambut panjang. Kira-kira 18 tahun umurnya, dengan rok terusan semata kaki berdiri membawa sebuah bungkusan di dadanya.

“Ada apa, Narti? Kenapa tidak beri salam, dulu?”

“Maaf mas Ustadz. Saya kira…”

“Di luar saja ya? Tidak enak kalau dilihat orang.”

Arsip Cerpen di Indonesia