Mas Ustadz Suka Sama Mbak Narti

Seringkali makanan yang dikirim Narti, dia habiskan berdua dengan Wasis, salah seorang murid ngajinya. Kalau Wasis kebetulan tidak ada, sampai berhari-hari makanan itu masih tersisa. Bono tak mau membuangnya. Dia takut kuwalat. Takut dituduh menyia-nyiakan kasih yang diberi Narti. Dia khawatir Narti malah tersinggung jika tau makanan yang diberinya justru dibuang Bono. Narti terlalu baik jika harus mengalami rasa kecewa.

Baca juga: Apologia Si Sariburaja – Cerpen Marina Novianti (Analisa, 08 Juli 2018)

Narti, gadis manis 18 tahun itu entah kenapa setelah lulus Tsanawiyah tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Dia lebih memilih membantu simboknya di rumah. Bukan karena orangtuanya tidak punya biaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya dari enam bersaudara pasangan mbok Karni dan Lek Pardi, dia tak tega membiarkan simboknya. Usia sudah tua bekerja sendirian di rumah menyiapkan semua keperluan suami dan anak-anaknya. Narti mengalah. Ketika kemudian empat saudara lelakinya sudah berumah tangga, Narti tetap saja tak ingin melanjutkan sekolahnya.

“Aku mau bantu simbok aja,” katanya ketika suatu hari Bono bertanya.

“Sayang ‘kan Narti?”

“Nanti aku mau kursus menjahit saja. Kasihan simbokku kalau gak ada yang bantu atau aku bantu mas Ustadz ngajari anak-anak mengaji saja. Boleh?”

“Jangan, Narti. Nanti saja kalau aku sudah kewalahan. Sekarang anak-anak masih sedikit. Lagi pula ada Wasis,” jawab Bono, cepat. Dia memang pernah kepikiran untuk mengajak Narti mengajar anak-anak mengaji di Musala. Niat itu segera dia urungkan. Khawatir orang-orang salah sangka.

“Tapi ‘kan…….”

Baca juga: Bintang Maratur Tak Bertuan – Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 20 Mei 2018)

“Nanti kalau anak-anak yang mengaji sudah banyak, baru Narti boleh ikut mengajar,” potong Bono.

Narti diam. Bono melihat ada gurat kecewa di wajah gadis itu.

“Ya udah kalau gak boleh,” ujar Narti kemudian.

“Bukan gak boleh, Narti. Kamu ‘kan tau gak ada bayarannya mengajar anak-anak itu. Nanti saja, kalau pengurus Musala sudah sepakat bikin madrasah, baru Narti mengajar.”

“Janji, ya?”

“Iya.”

“Demi Allah?”

“Kok pakai Demi Allah segala?”

Arsip Cerpen di Indonesia