Mas Ustadz Suka Sama Mbak Narti

Baca juga: Ketika Batu Itu Merapat – Cerpen Fadmin Prihatin Malau (Analisa, 10 Juni 2018)

“Nanti kalau Madrasahnya udah ada, mas Ustadz ingkar.”

“Iya, Demi Allah.”

Narti tersenyum.

“Awas lho kalau mas Ustadz bohong,” kata Narti sambil pergi.

Bono cuma tertawa. Manja betul anak ini, pikirnya. Sejak itulah Narti jadi lebih sering mengantar makanan ke rumahnya. Bahkan walau hanya untuk beberapa potong ubi rebus. Bono kadang-kadang merasa lucu. Seiring dengan itu rasa sayang pada Narti mulai tumbuh pula di hatinya. Perasaan sayang yang didasari entah karena dia menganggap Narti sebagai adiknya. Atau karena benih-benih cinta antara dua manusia berlainan jenis mulai tumbuh di hatinya. Bono sungguh tak tahu rasa sayang mana yang paling besar dan sedang menggelayuti hatinya. Ketika suatu hari dia dan Wasis sedang duduk di teras Musala, Bono tak bisa berkata apa-apa ketika Wasis meledeknya.

Baca juga: Gadis Tua dan Musuknya – Cerpen Venny Mandasari (Analisa, 24 Juni 2018)

“Ketahuan sekarang, mas Ustadz suka sama mbak Narti ya?”

“Hus, kamu jangan ngarang, ya?”

“Buktinya Ustadz terus aja ngeliatin mbak Narti kalau lagi ambil wudu.”

“Kapan? Sok tau kamu, ya?”

“Mbak Narti juga naksir mas Ustadz, tuh. Buktinya dia terus aja ngasi Ustadz makanan.”

“Kamu ini. Awas ya…”

Bono bangkit hendak mencubit anak lelaki itu. Wasis langsung lari. Sambil tertawa dia masih meledek; “Hore… mas Ustadz suka sama mbak Narti……”

 

Tamora, September 2018

Arsip Cerpen di Indonesia