Mas Ustadz Suka Sama Mbak Narti

“Anu Ustadz, saya disuruh simbok mengantar ini ke mas Ustadz.”

“Apa itu?”

“Simbok masak gulai rebung. Simbok suruh Narti mengantarkannya untuk mas Ustadz,” jawab Narti sambil menyerahkan bungkusan itu kepada Bono.

“Kenapa repot-repot, Narti? Sambel Teri yang kamu beri kemarin pun masih ada.”

Gadis belia itu tak menyahut. Wajahnya tersipu malu. Matanya menatap tanah. Bono mengambil juga bungkusan itu.

“Ya udah, sampaikan terima kasih saya pada simbok, ya?”

Baca juga: Dibantu Hujan – Cerpen Ken Hanggara (Analisa, 19 Agustus 2018)

Gadis belia yang dipanggil Narti mengangguk. Langsung berlari ketika bungkusan itu sudah berpindah ke tangan Bono. Lelaki muda itu melongo.

“Eh, Narti, tunggu. Piring yang kemarin gak sekalian dibawa?”

“Nanti aja mas Ustadz,” jawab Narti sambil terus berlari. Bono tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia pandangi kepergian gadis itu sampai hilang di balik rimbun pohon-pohon pisang di ujung gang.

Bono kembali ke dalam rumah. Meletakkan bungkusan itu di atas meja dan membukanya. Ketika tutup rantang dia buka, gulai rebung yang masih hangat itu menebarkan aroma yang langsung menyergap hidungnya. Bono menghirup aroma gulai itu dalam-dalam. Dia kemudian membuka tutup rantang lainnya yang berisi nasi dan sepotong ikan Tenggiri sambal.

Bono menarik nafasnya dalam-dalam. Alangkah penuh perhatian Narti kepadanya. Hampir setiap hari perempuan belia itu mengiriminya makanan. Padahal sudah sering dia meminta agar Narti tak perlu repot-repot mengiriminya makanan. Narti seakan tak pernah mau mendengarnya.

Baca juga: Barlin dan Anjing-anjing – Cerpen Dian Nangin (Analisa, 12 Agustus 2018)

Gadis lulusan Tsanawiyah itu terus saja mengantar makanan kepadanya. Bahkan jika Bono kebetulan sedang tidak di rumah, Narti meninggalkan makanan itu di atas meja. Macam-macam alasannya jika Bono melarang. Disuruh simboklah, kebetulan sedang masak banyaklah, karena sudah sukarela mengajari anak-anak kampung mengajilah, dan macam-macam alasan lainnya.

Lama-lama Bono kepikiran juga untuk mengetahui apa sebenarnya motivasi Narti mengantar makanan untuknya hampir setiap hari itu. Dia takut bertanya. Khawatir jangan-jangan dia ke-geer-an sendiri menyangka yang bukan-bukan. Akhirnya dia pasrah saja. Dia biarkan Narti melakukan semua itu.

Arsip Cerpen di Indonesia