“Sungguh Tuhan Mahabaik,” katamu. “Meski kita hampir setengah abad, nyatanya kita telah diremajakannya kembali dengan segenap kasih sayang dan cinta yang tak kurang suatu pun.”
“Ya. Tak kurang sesuatu pun. Kendati kita telah hampir separo abad,” tandasku.
“Rupanya begini rasanya telah dilahirkan kembali. Hidup untuk bahagia dan membebaskan diri dari rasa takut.”
“Persisnya, membebaskan rasa takut dari kehidupan di neraka dunia. Begitu bukan maksudmu?”
“Sembarang,” jawabmu.
Baca juga: Saksi Mata – Cerpen Agus Noor (Koran Tempo, 05-06 Agustus 2017)
Lalu, kami tertawa sambil menghabiskan nasi iga sapi bakar, ayam keprek, jus sirsak, dan segelas tuak buatku. Menu bebas dan bahagia di kehidupan dunia. Lantas berlanjut dengan kelakuan remaja berbagi rasa pedas, aroma keringat yang panas dengan ciuman sampai gusi berdarah, dan pelukan hingga napas sesak—menu bebas dan bahagia di kehidupan neraka dunia dan akhirat.
“Kau belum jelaskan bagaimana kau tahu semua lelaki mengalami impotensi,” pintaku. “Lalu, kenapa hal itu kau katakan padaku, lelaki yang baru dilahirkan kembali oleh Tuhan untuk menemukan cintanya padamu.”
“Heheheehe…aku senang, aku bangga dengan pertanyaan lugumu, Sayang. Itu artinya kamu kurang pengalaman. Eh, maksudku kamu tidak banyak memperhatikan perempuan lain selain diriku,” katamu dengan tawa kecil yang terkesan jengah, makin memperlihatkan gairah hidup remajamu.
Baca juga: Pelahap Kenangan – Cerpen Agus Noor (Kompas, 29 Juli 2018)
“Ayo katakanlah. Apa itu artinya hanya aku yang kau pandang lelaki perkasa? Jika seluruh pria impoten, bagaimana telah lahir anak-anak yang setiap hari kulihat mengaji dan main petasan itu? Apa mereka dilahirkan dari rahim malaikat tanpa sumbangan lelaki?” pintaku sembari melempari tulang iga ke kolam.
“Sudah kukatakan, aku ini perempuan, Sayang. Perasaanku lembut. Aku bisa merasakan kehidupan kaum perempuan di kota ini, eh di neraka ini. Dan lagi, mestinya aku balik tanya padamu; apa hubungannya impotensi dengan jumlah anak-anak yang terus lahir dan bertambah? Impotensi tidak menghalangi angka kelahiran anak-anak, Sayang. Tuhan sudah mengatur itu.”