Baca juga: Mar Beranak di Limas Isa – Cerpen Guntur Alam (Kompas, 20 Maret 2011)
Selang sejenak peristiwa berganti. Emaknya, si janda itu, giliran atas dasar suka sama suka akhirnya kawin dengan seorang karyawan pabrik juga. Itungitung, biar di rumah itu ada lelaki, karena satu-satunya lelaki, anak si janda itu, malah jadi maling dan kerap digebuki orang kampung. Maka perkawinan janda dengan karyawan pabrik itu jadi pergunjingan. Konon katanya perkawinan itu hanya untuk bersenang-senang. Konon juga untuk supaya keluarga itu bisa terus makan. Mungkin salah satu benar. Mungkin juga keduanya tidak salah. Namun, si janda itu selalu menepisnya dengan kalimat yang tegas, gamblang, dan keras. “Apanya yang untuk senangsenang, lha wong impoten siang dan malam!” Meski demikian, si janda itu tak bisa atau tepatnya berpusing ria manakala hendak meminta cerai darinya. Tersebab, si obat darah tinggi itu hamil untuk kali kedua. Pelakunya ya jelas si impoten itu juga—lelaki yang sungguh telah dibuat malu dan membuat malu dirinya sendiri, meski sekaligus demi membantah kasak-kusuk busuk kelelakiannya. Dia kabur pindah kerja ke pabrik lain.
Siang itu, aku agak sulit membedakan diisap bibir kekasihku ataukah disapu kecupan bidadari. Antara sadar dan tidak, larut oleh ilusi, antara berkumpar bayang kekasihku atau kemolekan si obat darah tinggi di kepalaku, kukatakan pada kekasihku, “Engkaulah bidadariku, belahan jiwaku. Dalam beberapa saat kau bawa aku terbang dalam nikmat surgawi tak kenal waktu.”
(bersambung)
Ngimbang, 27 September 2018