Bidadari yang Tersesat di Neraka

“Maksudmu, kau mau melibatkan Tuhan untuk memberi terang sesuatu persoalan darimu yang tak kupahami ini?”

Kau malah tertawa dan selepas mengusap bibirmu dengan tisu, lantas beranjak memiting batang leherku dan berlanjut kembali menciumku kuatkuat dan berlama-lama.

“Sabar, Sayang..” bisikmu.

III

Selama kuasa pitingan tubuhmu yang terhitung besar dan di bawah sapuan ciuman bibirmu yang bagaikan tarian itu, aku seperti dihinggapi suatu ilusi. Tepatnya diserbu ingatan dan pengetahuanku tentang seorang perempuan muda yang kenyataannya entah pernah kudapatkan dari mana. Yang jelas, berasal dari wilayah yang mirip neraka juga tak jauh dari tempatku.

Baca juga: Tanah Air – Cerpen Martin Aleida (Kompas, 19 Juni 2016)

Berlatar sebuah tempat dengan pabrik-pabrik besar dengan bau amoniak yang menyeruak di tebaran angin saban sore dan malam hari. Perempuan itu bernama Seledri—artinya obat darah tinggi. Tinggi semampai, putih, cantik, matanya bening dengan bulu-bulu mata yang lentik, hidungnya mancung dengan ujungnya senantiasa memerah. Menjelang lulus sekolah, dalam sebuah arak-arakan karnaval, si obat darah tinggi itu menyihir ribuan penonton lelaki dan perempuan, dari anak-anak sampai kakek nenek. Seledri benarbenar menjadi bidadari—berselendang, bersayap, berbinar-binar, tetapi di jalanan dengan euforia warga sebuah negara yang konon kabarnya telah merdeka.

Semua orang mengusut tanya; anak siapa? Punya siapa? Rumahnya mana? Tingginya berapa? Ukuran BH-nya berapa? Jawaban secukupnya, si obat darah tinggi itu anak seorang janda. Keluarganya broken home. Hidup hanya dari uang pensiunan kakeknya. Sekolahnya juga berbekal belas kasih siapa saja. Sayangnya, kemudian hamil sebelum lulus sekolah. Pelakunya banyak. Anaknya lahir tanpa tahu siapa bapaknya. Lalu, seorang karyawan pabrik berjasa menikahinya dan mengaku orok itu anaknya sendiri. Tak lama selepas anak malang itu lahir, si obat darah tinggi menggugat cerai karyawan pabrik itu dengan alasan impotensi.

Arsip Cerpen di Indonesia