“Tapi Pak, kejadiaan barusan itu salah satu bukti kalau mimpiku benar Pak,” aku mengulang kata-kataku.
“Memang seberapa persen mimpimu jadi nyata. Semuanya? Tidak kan? Kita harus berpikir logis karena hidup di dunia nyata, bukan dunia mimpi.” Bapak menasihati.
“Bener Fatur, dengerin kata bapakmu saja sana,” Ibu menimpali dan selalu mendukung kata-kata Bapak.
“Iya Bu…” aku hanya bisa berkata begitu tidak berani menyanggah kata-kata ibu.
Aku tetap mendongkol dalam hati, seandainya Bapak berada pada posisiku, apa Bapak akan tetap berpendirian seperti itu. Apakah akan sepertiku dihantui perasaan waswas dan gelisah akan apa yang akan terjadi. Lebih baik jika itu adalah mimpi yang baik, alih-alih, aku selalu mendapat mimpi buruk dan tidak mengenakkan.
Baca juga: Angku Zainal – Cerpen Adam Yudhistira (Republika, 26 Agustus 2018)
“Udah berdoa sebelum tidur belum, kalau enggak kan mimpinya datang dari setan yang ingin menggoda kita, Tur,” kata Wahid temanku.
“Sudah, tapi tetap saja bermimpi. Harus bagaimana lagi, Hid?
“Mungkin kamu kurang yakin dengan doamu. Allah kan sejalan dengan pikiran kita. Jika kita berprasangka baik pada-Nya, tentu ia juga berprasangka baik pada kita. Ini gue dengar dari ustaz ya, salah satu penyebab doa terkabul adalah keyakinan kita bahwa doa akan terkabul. Begitu sih yang gue denger,” kata Wahid dengan bijaksana. Dia satu-satunya teman yang aku percaya karena terkenal di kalangan teman-teman sebagai orang yang sabar sekali. Beruntung nya aku bisa dekat dengan dia.
“Barangkali lo benar Hid, selama ini gue selalu takut akan mimpi gue. Bapak selalu bilang jangan takut justru setan makin senang dan Allah makin jauh. Apa ketakutan gue sama mimpi lebih dominan dibanding takut gue sama Allah ya? Gue jadi ngeri,” kataku sambil menutup muka dengan tangan.
Baca juga: Bulan Memancar – Cerpen Tjak Parlan (Republika, 19 Agustus 2018)
Namun, seberapa keras aku mencoba saran dan nasihat orang tua dan teman, tetap saja belum menampakkan hasil yang signifikan. Sehingga aku lalui saja hidupku apa adanya. Waktu terus berjalan tak terasa umurku sudah memasuki masa-masa kuliah. Untuk mencari suasana baru dan wawasan yang lebih luas aku lebih memilih untuk kuliah di Jawa di sebuah universitas impian ku. Lagi pula aku laki-laki, hidup jauh dari kampung bagiku adalah tantangan yang mampu menambah pengalaman hidup dan akan sangat berguna bagi masa depanku kelak.