Mimpi dan Takdir

Sampai hari itu tiba, ini tentang mimpiku lagi. Aku sedang berada di rumah di kampung dan tiba-tiba saja aku mengalami sesak napas yang penyebabnya tidak aku ketahui karena aku tidak memiliki riwayat asma atau penyakit paru-paru lainnya. Lalu spontan aku keluar rumah mencari udara segar, tapi tidak berefek sama sekali. Justru aku melihat sesuatu yang sangat mengejutkan dan membuat bulu kudukku berdiri, semua orang terkapar di tanah basah, ada yang masih bisa meminta tolong, ada yang sedang sekarat, lebih tragis ada yang sudah tidak bergerak sama sekali. Anehnya, aku hanya bisa melihat tanpa bisa bergerak sama sekali seolah-olah aku diserang penyakit lumpuh. Ya Allah, tiba-tiba aku teringat orang tua dan adikku. Bagaimana ini? Bagai mana keadaan mereka? Kenapa aku tidak melihat mereka? Aku hanya bisa berteriak, Bapak … Ibu … Fahmi … ah lalu aku terbangun dengan bermandikan keringat dingin. Seketika aku syok dan aku langsung mengambil handphone untuk menelepon rumah karena aku sedang berada di Jakarta.

Baca juga: Riwayat Haji – Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)

“Assalamualaikum Bapak. Bapak, Ibu, dan Fahmi, semua ada di rumah kan? Tidak terjadi apa-apa kan? Bagaimana keadaan di sana?” bertubi-tubi pertanyaan aku lontarkan ke Bapak.

“Ya Allah Tur, malam-malam begini kenapa nelepon, ada apa lagi? Sekarang jam satu malam loh, Tur.” Timpal bapak dari seberang sana.

“Fatur mimpi lagi Pak. Kali ini lebih mengerikan dibanding sebelumnya. Fatur bukannya mau percaya, tapi Fatur merasa bahwa ini benar-benar akan terjadi,” kataku hampir menangis.

“Ya udah ya udah, coba kamu ceritakan deh,” kata Bapak tanpa menyanggah, mungkin mendengar suaraku yang mulai berubah. Lalu aku ceritakan sekelumit mimpi yang baru aku alami. Bapak mencoba menenangkanku mungkin karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk memulai perdebatan. Aku tutup telepon dengan gugup lalu mencoba merenung dan alhasil aku tidak bisa melanjutkan tidurku.

Baca juga: Seperti Pagi – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 05 Agustus 2018)

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung pulang ke kampung halamanku. Dalam perjalanan aku sibuk berpikir apa yang harus aku lakukan karena aku merasa ini akan terjadi untuk kesekian kalinya. Orang tua dan adikku kaget akan kepulanganku yang tanpa kabar itu. Sontak aku meminta maaf karena tidak menelepon sebelumnya.

Lalu, aku ceritakan kegundahan dan beban pikiranku dengan alasan yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Aku bercerita dengan membabi buta dan lebih meyakinkan keluargaku lebih tepatnya sedikit memaksa mereka mengikuti keinginanku. Tentu saja mereka tidak mengikuti saranku untuk pindah sementara ke Jakarta. Aku merasa di kampung tidak aman lagi, itu yang ada dalam pikiranku. Aku seperti orang bodoh, tapi mau bagaimana lagi aku tidak mau terjadi apa-apa dengan keluargaku. Namun, itu serasa suatu yang mustahil karena ini berkaitan dengan sesuatu yang sangat besar dan kompleks. Adikku masih sekolah, Bapak mesti bekerja di kantor, dan Ibu sebagai istri yang patuh ya mengikuti apa yang dikatakan Bapak. Kepalaku semakin pusing karena sebagian keluarga besar di luar keluarga intiku berada di kampung.

Arsip Cerpen di Indonesia