Mimpi dan Takdir

Baik, aku berjanji dalam hati untuk bertahan selama seminggu di kampung halaman, selama itu aku akan terus meyakinkan keluargaku. Aku tidak boleh menyerah dan mengeluarkan segenap tenagaku agar ini berhasil walau tampak mustahil. Perdebatan hebat tak bisa dihindari. Sebagai anak, aku mengalah dan memutuskan kembali ke Jakarta. Berat rasanya kaki ini meninggalkan rumah bak beratnya perpisahan seorang yang sedang sekarat menunggu malaikat maut menjemputnya. Semoga ini hanya mimpi bunga tidur tak lebih dari itu, hiburku dalam hati.

Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)

Di Jakarta aku telah disibukkan kembali dengan aktivitas perkuliahan dan sedikit lupa dengan dua hari yang lalu saat aku di kampung. Ketenanganku terusik saat mendengar kabar dari kampung halamanku bahwa telah terjadi gempa berkekuatan besar sekitar 7 skala Richter. Jantungku langsung berdegup kencang dan dengan segera menelepon ke rumahku di Palu, Sulawesi Tengah. Aneh telepon tidak terhubung, ah mungkin sinyal pikirku. Lalu, aku telepon kembali, tapi tetap saja tidak terhubung. Kemudian aku telepon semuanya, Ibu dan adikku, tapi tetap sama. Begitu pun dengan keluara yang lain.

Hati ini semakin cemas dan kalut dengan berita di TV yang menginformasikan semakin banyak korban jiwa dan banyak rumah yang hancur dan roboh. Ingin pulang pun tidak bisa karena penerbangan ke Palu masih terkendala. Bahkan, sampai seminggu pun penerbangan masih diprioritaskan untuk pengirman bantuan.

Baca juga: Tendangan Dua Belas Pas – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 15 Juli 2018)

Di tengah kekalutanku, tiba-tiba ponselku berbunyi dan ada pesan yang masuk. Begini redaksinya, “Kak Fatur, apa kabar kakak di Jakarta? Mungkin kakak sudah mendengar berita bahwa terjadi gempa dan tsunami di kampung k ita Kak, di Palu tercinta. Aku sedikit bingung untuk menciritakannya, tapi alhamdulillah aku sangat bersyukur pada Allah bahwa aku, Ibu, dan Bapak selamat dari bencana itu Kak. Pada awalnya kami semua terpisah, tapi Allah menakdirkan kita bertemu di rumah sakit yang sama. Keadaan kami di sini sedikit tidak biasa, tapi kami dirawat dengan baik oleh dokter di sini. Keluarga-keluarga yang lain baru sebagian yang bertemu dengan kami dan ada sebagian yang sudah mendahului kita kak. Kita doakan saja mereka agar amal ibadahnya diterima Allah. Fahmi hanya bisa Whatsapp karena keterbatasan pulsa dan ini juga meminjam handphone dari orang di rumah sakit. Salam dari Bapak dan Ibu, mereka berpesan agar kakak tidak perlu juga merisaukan mimpi-mimpi kakak selama ini. Jika terjadi bencana dan musibah itu sudah ketetapan yang di atas dan pun jika ada yang meninggal dari keluarga kita itupun juga sudah suratan dan memang ajal yang bisa datang kapan, di manapun dan kondisi apa pun. Mohon doa agar keadaan Fahmi, Bapak, dan Ibu cepat pulih. Kakak tidak perlu khawatir dan jika sudah memungkinkan sebaiknya kakak cepat pulang. Fahmi.

Aku langsung terduduk dan bahagia dengan kabar tersebut. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepalaku tentang kepercayaan dan keyakinan pada Allah tentang takdir dan nasib masing-masing ma nusia yang harus aku percayai sepenuhnya, tentang kepercayaan dan ketakutanku akan mimpi yang harus dihilangkan tanpa sisa dalam otakku. Inilah titik balik dalam hidupku.

 

Raihanan Sabathani, SP. Penulis adalah lulusan Universitas Andalas Padang

Arsip Cerpen di Indonesia