Keren…! Ada pertunjukan sulap! Si wanita kini mendadak buta. Lelaki tua menyeret langkah kakinya yang berat dan berperban tebal, sembari menuntun wanita buta. Dengan susah payah, mereka menyeberang jalan. Menuju deretan toko yang sibuk dengan aktivitas ekonomi yang cukup ramai.
Oh, sungguh kasihan! Aku hampir menangis. Bayangkan, wanita buta dengan ayahnya yang telah tua dan pincang pula! Hidup mereka tentu susah! Sutradara mana pun yang melihat adegan ini akan langsung bersujud dan memohon agar keduanya bersedia ikut ke Hollywood! Pasti!
Baca juga: Ketika Batu Itu Merapat – Cerpen Fadmin Prihatin Malau (Analisa, 10 Juni 2018)
Manusia-manusia itu teramat baik. Ilmuan mana yang bersedia membantuku menjelaskan bahwa ‘baik’ dan ‘bodoh’ itu seringkali relevan? Ah, bagaimana tidak? Dengan segera, kantong mereka telah mengembung. Padahal aku ingin berteriak ‘jangan percaya!’.
Apa daya? Aku hanyalah si bisu!
***
Sang Terhormat.
Pria tua itu, seperti hari-hari biasanya, menenteng dua keranjang besar. Di dekatku, dia menghentikan langkah. Seketika aku mencium aroma keringat dari tubuhnya. Barangkali dia telah berjalan puluhan kilometer semenjak matahari baru bangun. Aku mencoba mengintip isi keranjangnya. Masih setengah bagian!
Mengeluarkan saputangan, dia menghapus keringat di dahi. Di bawah terik matahari, aku ingin memayunginya dengan apa saja yang kupunya. Dia telah berjalan lagi, menawarkan kue-kue basah dagangannya.
Baca juga: Bintang Maratur Tak Bertuan – Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 20 Mei 2018)
Tak semenit, aku melihat Sang Terhormat berjalan tergesa. Seorang pria berpakaian coklat necis dari arah kanan mengangkat tangan menyapa. Tepat di sampingku mereka bertemu, saling bersalaman.
“Sebenarnya lingkunganku tak perlu penerapan proyek ini,” bisik Sang Terhormat.
“Atur saja…” Sembari mengangkat sebelah alisnya, Si Coklat berbisik pelan, seolah khawatir terdengar olehku.
Tawa meledak di antara mereka dengan kelucuan semu yang hanya dimengerti sendiri.
***