Barangkali musim hujan telah tiba sejak kemarin. Aku menengadah. Awan hitam bergerak cepat. Angin bertiup kencang menembus pori-pori tubuhku.
“Akh!”
Keranjang itu menggelinding di dekat kakiku. Lelaki tua tergelincir dengan tubuh basah terjerembab di genangan air. Orang-orang mulai berkerumun.
“Dulu tidak begitu…”
“Iya, lihat genangan air di mana-mana. Rumahku pun kebanjiran sekarang! Proyek yang menyengsarakan!”
Baca juga: Apologia Si Sariburaja – Cerpen Marina Novianti (Analisa, 08 Juli 2018)
“Aneh, katanya proyek untuk mencegah banjir di musim hujan. Kenyataannya?!”
“Cepat! Cepatlah tolong Pak Tua…” jerit batinku lirih. Ah, kakiku yang terendam air tak bisa bergerak!
***
Pos Serba Guna.
“Di sini. Ya, di sini tepatnya, akan dibangun sebuah pos keamanan!” Pria muda membolak-balik buku hijau di tangannya.
“Lihat ini, nomor 30 telah memberi dua ratus ribu, pintu kuning tiga ratus ribu, dan ….”
“Ah, tunggu suamiku pulang, kubicarakan dulu dengannya.” Bu Sil segera menutup pintu. Dia keluar dari pintu belakang menemui Bu Tari, tetangga sebelah kiri.
“Apa?! Sumbangan? Bangun pos keamanan? Tidak… tidak. Tidak akan kuberikan sepeser pun!” Bu Tari melengkungkan bibirnya.
Baca juga: Barlin dan Anjing-anjing – Cerpen Dian Nangin (Analisa, 12 Agustus 2018)
“Pikir saja, bagaimana mobil pemadam kebakaran bisa masuk bila pos dibangun di bibir gang ini? Sudah sempit, tambah sempit! Huh!”
Bu Sil menganggut.
Bu Tari kembali ke dalam rumahnya demi bel yang berbunyi dua kali.
“Eh, Yang Terpercaya,” sapa Bu Tari dengan keramahan yang tulus.
“Ya, saya sudah mendengar tentang pos itu. Baik. Baik sekali!”
“Ya, semua ini atas seizin Yang Terhormat…”
“Tentu bagus! Saya mendukung sepenuhnya.” Bu Tari tertawa lebar.
“Sebentar ya, dompet saya di dalam…”
***