Aku telah menguap untuk kali yang ke dua puluh tiga. Malam sudah demikian larut. Suara cekikikan manja wanita-wanita dalam pos di bibir gang, telah menarikku keluar dari dunia mimpi berulang kali.
Aku bukan petugas ronda, tetapi telah dibuat berjaga sepanjang malam. Huh!
Cahaya yang samar di ufuk timur, menyentakkanku. Pagi telah tiba!
Aku mengucek mata yang perih oleh kantuk. Di ujung Gang Tiparem, dari dalam pos, keluar tiga wanita dan dua pria. Berjalan sempoyongan dengan botol bir di tangan. Mereka pergi dalam kegelapan. Aku menarik napas lega. Selamat datang pagi yang indah dan semoga hari ini aman-aman saja!
Baca juga: Dibantu Hujan – Cerpen Ken Hanggara (Analisa, 19 Agustus 2018)
Sebuah beca bermesin menderu, lalu berhenti. Menimbulkan kepulan asap putih di dekatku—membuatku terbatuk sekali.
“Main, yuk!” seru penarik beca mesin berkepala licin kepada kumpulan pemuda asongan di persimpangan jalan.
Tak lupa membawa sekotak kartu baru, pos itu kini berubah fungsi lagi. Sunyi; teriakan frustrasi; tawa kegembiraan; bentakan penuh amarah, silih berganti mewarnai pagi bertanggal 2 ini. Aku menahan napas kekhawatiran setiap kali pertengkaran terlihat mewarnai permainan di dalam pos sempit itu. Lalu….
Bagus…, bagus…! Aku bersorak demi mendengar suara raungan sirene mobil Pemberantas Maksiat dari kejauhan. Cepat…, cepatlah tiba! Saksikan semua ini, laksanakan tugas dan tangkap mereka semua!
Baca juga: Ciprut Melihat Badut – Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 09 September 2018)
Si Kepala Licin serta-merta telah keluar dari permainannya. Berdiri di pinggir jalan, matanya mencari di kejauhan. Heh, akan lari ke mana kau, hah?! Rasakan!
Mobil itu semakin dekat. Tepat di samping pos, mobil dihentikan. Aku bersiap menonton aksi pemberantasan kemaksiatan!
Tunggu! Ada apa dengan mereka?!
Kepala Licin berlari kecil ke arah mobil Pemberantas Maksiat. Tersenyum lebar, dia mengulurkan tangannya ke dalam kaca mobil yang segera saja diturunkan. Apa yang diserahkannya? Aku gagal mengintip akibat silaunya matahari!
Tanpa sirene, mobil Pemberantas Maksiat pun berlalu. Kepala Licin kembali ke dalam Pos Serbaguna. Argh, hanya begitu?!