Hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupku, hari yang sudah lama aku nantikan dengan penuh perjuangan dan doa. Hari di mana aku memperoleh gelar sarjana. Semoga aku diberikan kelancaran di ruang sidang. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan penuh perjuangan. “Ayana Husna, dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan.”
Senyum sumringah senantiasa aku berikan hari itu. Rasa haru dan senang bercampur menjadi satu. Semua teman-teman datang silir berganti menghampiriku untuk memberikan ucapan selamat pada diriku. Namun mataku masih liar melihat jalanan berharap ada seseorang yang datang menghampiriku. Benar saja, terlihat dari kejauhan seseorang yang seketika membuat jantungku berdebar kencang, seketika tubuhku lemas.
Baca juga: Pete Si Kerdil – Cerpen Carol Moore (Haluan, 07 Oktober 2018)
“Selamat atas gelar barunya Ayana.” Suara itu tidak asing di telingaku, bunga mawar merah sudah terangkai indah diberikan pada diriku. Dan aku hanya bisa tersenyum bingung dan malu. “Terima kasih sudah datang, Mas Umam.” Jawabku dengan penuh malu. Dan dia pun hanya tersenyum, tersenyum manis kepadaku seakan semua baik-baik saja. Namun hatiku yang tidak baik-baik saja, hatiku rapuh menahan cinta yang sudah terpendam setahun lamanya. Hatiku lemah menyimpan rindu yang sudah menumpuk selama setahun lamanya.
“Boleh Umam membawa Ayana pergi? Ada yang ingin Umam bicarakan dengan Ayana.” Tanyanya sembari menunduk.
Entah kesambet apa kami seketika berubah menjadi canggung dan kikuk, seperti ada yang berbeda. Suasana di sekitar kampus pun seakan berubah menjadi sepi. Semula teman-temanku datang silir berganti, kini hanya dia yang tersisa. Di bawah pohon trembesi kampus kami pun berdiri tak berkutik.
“Pergi ke mana mas? Dan apa yang ingin dibicarakan?” Jawabku dengan penuh keraguan.
Baca juga: Memburu Sekutu Iblis – Cerpen Ken Hanggara (Koran Tempo, 06-07 Oktober 2018)
“Nanti malam Umam tunggu Ayana di warung makan langganan kita dulu ya. Ba’da isya.” Jelasnya dengan senyuman yang begitu mempesona di mataku. Sehingga aku tidak sanggup untuk melihatnya. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku, dan Umam pun pergi berlalu.
Sepanjang jalan pulang ke rumah aku terus berpikir keras, apa yang akan disampaikan Umam padaku. Apakah Umam ingin memberi tahuku bahwa ia ingin menikah dengan gadis itu? Atau kabar bahwa ia sudah menikah dengan gadis itu dan sebentar lagi akan memilik anak? Atau Umam akan memberiku kabar buruk lainnya. Ya Allah Ayana gak siap jika harus mendengar kabar tidak menyenangkan darinya. Ayana takut, Ayana tidak ingin menangis kembali. Hati dan batinku mulai meronta, mulai menerka-nerka yang tidak-tidak.