“Pesanannya sudah datang, Mbak, Mas. Nasi opornya dua, teh manis dinginnya dua.” Tiba-tiba pelayan warung makan itu menyodorkan makanan dihadapan kami.
Umam dengan sigap mengambil makanan itu dan memberikannya kepadaku.
“Maaf sebelumnya, Mas, sebenarnya hal apa yang ingin kita bicarakan?” Tanyaku sembari mencuci tangan di mangkuk kecil. Namun Umam hanya menghela nafas kemudian tersenyum lebar padaku. Sungguh itu semakin membuatku bertanya-tanya.
“Ceritanya panjang, dan intinya aku ingin meminta maaf darimu Ayana. Aku sadar sudah membuatmu menangis dan terluka sekian lamanya. Aku pulang Ayana.”
Baca juga: Bidadari yang Tersesat di Neraka – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 07 Oktober 2018)
Belum sempat ia melanjutkan bicaranya aku sudah terhenti meminum teh manis dingin. Aku teringat akan ucapanku sebelum tidur sembari melihat fotonya kala aku teringat dirinya. “Pulanglah.”
“Apa maksudnya pulang, Mas?” Tanyaku sembari mengerutkan dahi, alih-alih mencoba menepis rasa cemasku.
“Aku meninggalkanmu bukan karena aku tidak memiliki cinta lagi untukmu Ayana, aku meninggalkanmu bukan karena sudah tidak ada sayang lagi di hatiku untukmu Ayana. Aku memilih gadis itu dibanding dirimu dengan alasan aku tidak ingin membuatmu semakin terluka dan tersakiti, aku tidak ingin kamu menjadi korban ketidakmampuanku menahan diriku. Ingin aku memilih dirimu kala itu, tapi aku sangat yakin bahwa itu bukan jalan yang tepat, sebab perjalanmu masih panjang di dunia pendidikan. Jika kita menikah aku dapat pastikan kamu pasti akan menolak. Maka dari itu aku pilih gadis itu.”
“Tetapi mengapa harus memilih gadis itu? Kenapa tidak tinggalkan dua-duanya?” Tanyaku kembali.
Baca juga: Mimpi dan Takdir – Cerpen Raihanan Sabathani, SP (Republika, 07 Oktober 2018
“Itulah kelemahanku Ayana. Setahun kamu menjauh dan menghilang. Setahun itulah aku tersiksa, hidupku tak tenang. Aku dihantui bayang-bayang bersalah telah menyakitimu, mengingkari janjiku padamu. Maka aku putuskan memilih dirimu Ayana, kamu gadis yang selalu setia menemaniku, dengan tulus mencintai dan menyayangiku. Aku mohon maafkan diriku.” Jelasnya dengan air mata yang berkaca-kaca.
“Sudah lama Ayana memaafkanmu, Mas. Kamu gak salah, hanya caramu yang salah. Lantas selain meminta maaf, apa ada tujuan lain?” Tanyaku iseng.
“Tentu saja ada. Jika tidak keberatan, aku ingin mengkhitbahmu Ayana, dengan segala kekuranganku, aku siap menahan malu di hadapanmu dan kedua orang tuamu.” Ujarnya sembari mengeluarkan cincin emas bermatakan permata yang indah. Dan itu sungguh semakin membuat jantungku berdetak kencang, dan bingung untuk menjawab apa.