Pertemuan Impian

Adzan magrib pun sudah tiba. Hari ini cukup melelahkan, namun cukup berkesan. Biar lelah asal lillah, sepertinya sholat magrib adalah jalanku untuk menangkan hati dan batinku agar tenang dan sejalan kembali. Selesai sholat istigfar dan dzikir tak hen­ti-hentinya terputus. Mencoba menenangkan hatiku agar tenang, rutinitas itu selalu aku lakukan setiap hari sampai sholat isya tiba. Bagiku sehabis magrib adalah waktu yang tepat untuk berlama-lama bermanja dengan sang pencipta.

Hingga adzan isya pun tiba. Aku segera bangkit dari dudukku dan bangkit untuk kembali bertemu secara batin kepada sang pencipta alam semesta. Pemilik setiap hati manusia. Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setelah semua kewajibanku terlaksana, aku pun bersiap-siap untuk bertemu dengan Umam. Dengan pakaian terbaikku aku melangkahkan kaki menuju tempat yang sudah kami sepakati bersama. Sesampainya di sana, aku berhenti sejenak di depan warung itu. Aku sudah melihatnya dari kejauhan yang tengah melihat menu makanan.

Baca juga: Gadis Kecil Bernama Alenia – Cerpen Haryo Pamungkas (Media Indonesia, 07 Oktober 2018)

Mohon ampun kepada-Mu ya Allah, atas rasa yang belum halal ini. Jantungku terus berdebar kencang manakala melihatnya mengenakan kemeja berwarna navi dengan panjang selutut, dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam. Masya Allah, sung­guh apik ciptaan-Mu. Batinku terus meronta, berusaha tenang, menerima apapun yang akan ia bicarakan kepadaku.

Dengan begitu berat aku melangkah, sea­kan semua orang menatap diriku. Dengan balutan gamis berwarna senada dengan yang dikenakan Umam. Warna Navi dengan kerudung merah hati. Melangkah mengham­piri Umam.

“Assalamualaikum, Mas Umam.” Suaraku parau menyapanya. Seketika mata Umam pun tertuju padaku. “Boleh Ayana duduk?” Tanyaku kembali.

“Silahkan duduk, Ayana.” Jawabnya sembari mengulurkan tangannya sebagai tanda mempersilakan aku duduk.

Baca juga: Sarung Azan Simbah – Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 07 Oktober 2018)

“Umam sengaja mengajak Ayana untuk makan di warung ini. Dulu Ayana masih ingat kan kita suka sekali makan di sini selepas pulang kuliah, sekedar untuk berbagi cerita.” Ujarnya dengan sangat semringah.

Namun aku pun hanya tersenyum, aku masih merasa was-was dengan pertemuan malam ini. Aku takut pertemuan malam ini membuat air mata.

“Oh ya, Ayana, mas sudah pesankan makanan untukmu, opor ayam dengan tumis kangkung, favorit kita dulu kalau makan di sini. Tadinya sih mas mau pesan ifu mie juga, kamu masih suka ifu mie kan?” Tanya Umam kembali. Aku pun seperti semula hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalaku.

Arsip Cerpen di Indonesia