Bidadari yang Tersesat di Neraka

“Itu tidaklah cukup, Sayang. Apakah aku harus menerima pendapatmu? Tapi, baiklah, atas nama segala cintaku, aku bisa mengerti itu. Tapi, kau juga harus setuju dengan buah pikirku.”

“Ya, tentu saja. Tapi, aku perempuan, jadi lebih tahu mendalam tentang solah bowo keseharian perempuan, istri-istri dari lelaki yang tidak pernah punya waktu untuk bercinta. Sekali lagi, yang tidak punya waktu bercinta. Coba bayangkan bila itu berlangsung berpuluh tahun lamanya.”

“Kalau ini sepenuhnya bisa kuterima: perampokan atas waktu darinya yang terus berkelindan menyebabkan jati diri lelaki tak fungsi. Zaman telah menyulap kaum lelaki kehilangan banyak hal, Sayang. Bukan saja oleh sebab stres, gaya hidup, obat-obatan, merokok, tetapi juga suasana—kebisingan, kesibukan, teror polusi udara dan suara tanpa jeda, pagi, siang, sore, malam.”

Baca juga: Hari Baik untuk Penipu – Cerpen Agus Noor (Media Indonesia, 15 Juni 2014)

Betul. Kupikir semua itu sudah ada dalam buku panduan hidup bahagia, dan penjelasan yang klise. Terang dianggit oleh para dokter kebugaran yang belum pernah hidup di tengah kota selaknat ini. Kekasihku, cobalah engkau bayangkan bagaimana seorang lelaki yang terganggu dengan dengung nyamuk dan umpatan cicak atau derit engsel pintu yang disenggol tikus, bisa bercinta manakala di atas atap rumahnya gelegar batuk dari mulut pabrik serta getar mesin di jalan-jalan muka rumahnya.

“Tidak perlu kubayangkan,” katamu.

“Tidak pula aku memilih seperti sebagian besar perempuan di sini. Aku hidup dan berjalan dengan cintaku sendiri. Tuhan Mahabaik. Aku punya kesibukan. Aku mencintai pekerjaanku. Pada saat perempuan-perempuan di kota ini menghabiskan waktu dengan menunggu suami-suami mereka yang sudah tak punya waktu untuk pulang dari tempat kerja, aku hampir punya cukup waktu untuk berbagi cinta denganmu, kekasihku. Bercerita. Jalan-jalan. Berbagi pengetahuan. Makan bersama. Pelukan dan ciuman.”

Baca juga: Percakapan di Meja Makan dan Rahasia Kecil yang tak Bisa Diceritakan pada Siapa pun selain Kamu – Cerpen Guntur Alam (Padang Ekspres, 19 November 2017)

“Ya, terima kasih, Sayang. Kita akan segera menikah dan bercinta. Kita akan segera bercinta dan menikah.”

Oh, apakah ada prosesi pernikahan di neraka ini? Adakah waktu untuk itu di kota yang seluruhnya bersibuk ria dengan kesibukan tak terkira? Apakah yakin kita membutuhkannya? Kau bidadari yang punya suami. Sementara aku lelaki perkasa yang punya istri. Pada saat yang sama tidaklah memungkinkan waktu benar-benar diberikan sepenuhnya kepada kita. Tuhan menganugerahkan waktu sedikit yang tak tentu dan sungguh mahabaik diperbolehkan buat kita untuk berbagi kasih, sayang, rindu, dan cinta. “Tuhan Mahabaik, telah melahirkan kita kembali. Sekalipun di kota yang menyerupai neraka. Dia akan menjaga renjana dan memberi waktu bercinta.”

Ngaco kamu!

Arsip Cerpen di Indonesia