Bidadari yang Tersesat di Neraka

“Hemmm…boleh juga rayuanmu,” katamu. “Tak ada perempuan yang nggak suka dirayu. Tidakkah kau perlu bertanya mengapa aku jatuh hati dan ingin selalu hidup bersamamu?”

“Apa?”

“Karena engkaulah yang sanggup membebaskan rasa takut buatku untuk hidup di neraka ini. Kita sudah tak bisa memilih ketika Tuhan memberi pilihan hidup untuk hidup lebih elok di tempat ini atau keluar dari tempat ini. Aku tak peduli ini kota ataukah neraka. Aku hanya peduli pada kebahagiaanku dan lenyapnya rasa takut hidup di neraka kota ini. Kau telah membebaskanku dan aku juga membebaskanmu. Inilah hidup yang sebenar-benarnya hidup. Perjumpaan yang menghidupkan kembali dari kematian dan melahirkan lagi harapan-harapan. Bukankah kita menjadi percaya pada masa depan, sebagaimana hasrat kita untuk hidup bersama entah kelak di suatu masa dengan menunggu izin dan takdir Tuhan yang Mahabaik ini?”

Baca juga: Sindikat Pemalsu Kenangan – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 02 Juli 2017)

“Ya, aku ingin menikahimu kelak meskipun hanya sehari, Sayang. Aku ingin bercinta denganmu sepanjang waktu.”

“Hehehe…kamu tidak sedang mabuk, bukan?”

“Tidak, aku sadar sesadarnya. Aku lelaki perkasa dan eksotis yang sedang majenun kecantikanmu, keindahanmu. Perempuan yang memberiku hidup. Engkau tahu bukan, aku memilih menjemput kebahagiaan hidup bersamamu dengan segala keperkasaanku, pada saat sebagian besar lelaki di kota ini menyerahkan waktunya dengan menyeruput kopi menjaring wifi di kedai-kedai, menenggak tuak, melarikan diri dari impotensi. Sementara lelaki lainnya menjadikan berdoa dengan khidmat di tempat-tempat ibadat sebagai tembok terakhir ratapan ketidakmampuannya menjadi lelaki sejati.”

Baca juga: Saksi Mata – Cerpen Agus Noor (Koran Tempo, 05-06 Agustus 2017) 

“Hei..hati-hati engkau bicara, Sayang. Tuhan Mahabaik, tak sepatutnya engkau berkata begitu.”

“Biarlah. Tentu Tuhan mengerti. Karena hanya di kota inilah seluruh lelaki dan perempuannya bergantung pada tiupan angin. Ke barat ikut ke barat ke timur ikut ke timur. Mendukung sana. Mendukung sini. Lalu tukar guling dukungan. Dan agama hanyalah tembok ratapan, karena telah tahu dirinya telah dijaga hidup mereka dengan membuatkan mainan-mainan, agar impotensinya diakui eksistensinya.”

“Sialan, kamu! Kita pergi sekarang. Kau benar-benar perlu minum es degan. Biar kepalamu dingin dan mabukmu hilang.”

Arsip Cerpen di Indonesia