V
“Manusia adalah neraka bagi orang lain,” seseorang yang mengaku sahabatku dan kulupa namanya membisikkannya padaku ujaran Sartre itu hingga lumutan di pikiran dan jiwaku. Setiap lelaki adalah jahanam bagi perempuan. Pun, seorang istri adalah petaka bagi suaminya. Tentulah yang paling lantang meneriakkan panji ini adalah mereka yang berwaham “perkawinan hanyalah pelembagaan dari kegiatan cabul”. Begitulah, hidupku sendiri telah nyaris terjengkang ke dalam jurang mahadalam, sebelum perjumpaanku kembali dengan engkau, bidadariku, atas budi baik Tuhan. Perjumpaan dengan seorang perempuan penganut “Tuhan Mahabaik”. Kaulah seorang istri dari seorang lelaki yang sebagian besar dirampok waktunya dan sisanya untuk berdoa agar tak memiliki kesombongan—lelaki biasa sebagaimana terbesar yang ada di neraka ini.
Aku batal bunuh diri dengan minum sebotol Sprite 390 mililiter dengan sekaplet Bodrex berisi sepuluh tablet, selepas putus asa dari saban hari selama bertahun-tahun menenggak obat amlodipine 10 miligram setelah terserang hipertensi hebat akibat memelihara rasa takut hidup di bawah bayang kuasa istriku. Begitulah, ketika itu, di bawah rembulan sempurna, aku yang takut dan terus ditakut-takuti dengan kesengsaraan hidup di neraka kelak pada suatu masa justru berbuah bibit keinginan untuk cepat pergi ke alam yang berbeda sekadar membuktikan kata-kata istriku yang juga belum pernah singgah di sana.
Baca juga: Kue Itu Memakan Ayahku – Cerpen Guntur Alam (Kompas, 04 Maret 2018)
Ketahuilah juitaku, memang engkau benar adanya. Aku sungguh perkasa. Dalam suasana gempuran rasa takut dan ditakut-takuti api neraka, aku benar-benar lelaki sejati yang tak hilang fungsi. Tak ada kamus impotensi dalam hidupku, bahkan hingga menjelang keinginan matiku, sampai kemudian Tuhan melahirkanku kembali dalam perjumpaan denganmu. Singkat kata, aku perkasa bukan lantaran memang aku perkasa, tetapi aku perkasa tersebab tak ada yang hilang dari kekuatanku hanya karena takut, ditakut-takuti siksa neraka, depresi, apalagi oleh obatobatan anti tekanan darah tinggi. Akan tetapi harus kuakui, dengung nyamuk, nyanyian cecak, cericit tikus, omelan tokek, serta ulah kucing yang menggeser engsel pintu hingga berderit adalah musuh bebuyutan kejantananku.
“Tahukah kau, wahai kekasihku…”
“Apa?”
“Aku sudah hampir tahu jarak pekik kematianku. Namun, suaramu yang terdengar sangat lirih, lembut, bahkan lebih halus dari desau angin malam itu sungguh melipatkan gairah hidupku kembali, Sayang.”