Bidadari yang Tersesat di Neraka

VI

Karena engkau dan aku sama-sama pemabuk, lantas engkau mengajakku menikah dan bercinta. Bercinta dan menikah. Dan pernikahan kami adalah pernikahan warisan Jean Paul dan Rabiah si Tuhan Mahabaik—yang berpasrah sepenuh jiwa raga pada cinta yang kalis dan senantiasa melantunkan doa lirihnya, “Wahai, Tuhanku, bilamana daku menyembahMu karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembahMu karena gairah nikmat di surga, maka tutuplah pintu surga selamanya bagiku. Tetapi apabila daku menyembahMu demi Dikau sematamata, maka jangan larang daku menatap keindahanMu Yang Abadi.” Maka, engkau telah mengenalkanku pada cinta yang sebenar-benarnya cinta, hidup yang sebenar-benarnya hidup, tanpa berhujah apa pun kecuali atas nama kebebasan dan pembebasan. Engkau tidak pernah sama sekali mempersoalkan harta benda, surga atau neraka, tubuh atau jiwa, di istana atau belantara, di rumah atau di luar rumah, apalagi cuma perihal keperkasaan dan ketidakperkasaan.

Baca juga: Sindikat Pemalsu Kenangan – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 02 Juli 2017)

Ya, cinta saja. Titik. Tidak ada nomor satu dan tidak ada nomor dua di antara kita. Begitulah, maka selepas upacara pernikahan kami dengan penghulu dewa-dewa dengan saksi seluruh isi semesta dan dirayakan seisi jagat, engkau dan aku pun bercinta dengan segenap rasa khidmat serta khusyuk. Kami bercinta sepuas-puasnya. Bahkan, tiada hari tanpa bercinta. Di mana saja. Kapan saja. Dendam rindu dan kesumat waktu menyatu dalam gairah gelora nafsu. Pagi. Siang. Sore. Malam. Di hotel. Di dapur. Di kamar mandi. Di kebun. Di karpet. Di kloset. Di wastafel. Kau memiting. Aku membelit. Kau mencium. Aku melumat. Kau ditindih, aku menindih. Aroma tubuh dan keringat kami sama. Kami pun jadi makin tahu polah tingkah kami dalam keadaan demikian menjadi satu saling memasuki.

Kudengar kau mengejang dan terus membisikkan lembut suaramu.

“Muntahkan, Sayang. Muntahkan. Ayo. Muntahkan. Kau sedang mabuk. Minum lagi es degannya!!”

Baca juga: Perihal Orang Miskin yang Bahagia – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 31 Januari 2010)

Telingaku berdengung. Berdenging. Bising. Sulit membedakan bisikmu antara “muntahkan” ataukah “muncratkan”. Kota ini benar-benar tak pernah tidur. Di siang hari berang penuh amarah. Di malam hari sumuk dikipas-kipasi amuk. Neraka mana lebih jahanam dari sekarang? Bahkan untuk muntah pun aku tak pernah bisa di hadapanmu. Hanya dekapan kasih sayangmu senantiasa menghiburku dengan kata-katamu. Sudahlah, Sayang, aku tak pernah kecewa padamu. Cinta bagiku tidak pernah sesempurna bersamamu. Tuhan Mahabaik. (*)

 

Ngimbang, 27 September 2018

S. Jai. Novelis

Arsip Cerpen di Indonesia