Aku memilih mengintip mereka dari kejauhan. Kemudian, perlahan aku kembali ke ka mar tanpa ada yang menyadarinya, kecuali Bunda Riani. Aku kembali ke kamar dengan jalan terseok-seok. Kurebahkan badanku di kasur sambil memandangi rinai yang mengalir di balik kaca jendela kamar. Pikiranku seperti hendak memasuki mesin waktu dan kembali pada masa itu. Aku berniat menuliskan sesuatu di sebuah kertas. Namun, rasanya seperti ada mencekat rahangku dan sesuatu yang meyesakkan dada. Aku hanya mampu diam, membiarkan detak jam terus ber jalan dalam kekosong an di kamar.
***
“Sifa..”
Aku mendengar sayup-sayup suara seorang perempuan diikuti dengan suara laki-laki. Mereka menghampiriku dan kemudian memelukku. Aku memandangi wajahku di cermin, aku tampak cantik mengenakan kebaya berbahan katun sepasang dengan jarit bermotif batik. Kepalaku disanggul dan dihiasi bunga-bunga yang membuatku semakin anggun.
“Ayah dan Ibu bangga, Nak. Kamu tadi mendapat juara tiga.”
Perempuan itu masih memelukku.
“Kalau festival selanjutnya mendapat juara satu, ayah akan membelikanmu hadiah sepeda.”
Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)
Lelaki itu juga ikut berbicara, menjanjikan sesuatu yang kudambakan selama ini.
Mereka adalah ayah dan ibuku. Aku dijanjikannya sepeda yang sangat kuingini. Namun, aku hanya mendapat juara tiga. Aku selalu berharap menjadi juara satu, aku ingin sekali sepeda.
Langit mulai gelap. Awan siap menumpahkan jutaan fluida dari bibirnya dan mem basahi seluruh kota ini. Kami segera menepi di tempat yang teduh hujan. Ayah membelikan kami soto ayam. Aku dan ibu suka sekali soto ayam.
“Ayah, janji ya kalau juara satu, aku mendapat sepeda?” Tanyaku dengan wajah yang kuyup.
“Iya, sayang. Kamu harus rajin berlatih agar bisa menjadi penari yang hebat,” Ayah membelai rambutku yang ikal bergelombang.
Mataku berbinar bahagia mendengar ucapan Ayah. Aku sudah tidak sabar dapat mewujudkan impianku tersebut.