“Sekarang gerakan tangan. Ada bermacam-macam, yang pertama ukel gerakan memutarkan tangan. Selanjutnya, selut gerakan tangan kanan dan kiri yang digerakkan ke depan atau ke atas dengan cara bergantian. Ada lagi, tepak bahu, gerakan tangan yang menepuk-nepuk bahu baik itu satu atau dua tangan dan dua tangan saling bergantian.”
Tanganku masih lincah mengikutinya. Aku masih benar-benar mengingat sekaligus menginginkannya.
“Masih pada gerakan tangan, namanya capang. Capang adalah gerakan tangan yang membengkokkan salah satu dari tangan. Selanjutnya, nyawang, yaitu gerakan tangan seperti melihat orang dari kejauhan. Ada juga lontang kiri atau kanan, lontang adalah gerakan tangan yang menggunakan dua tangan dan digerakkan saling bergantian.”
Baca juga: Seperti Pagi – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 05 Agustus 2018)
Kali ini aku mundur, tidak lagi meniru gerakan tari mereka dari kejauhan. Mencoba berlari seperti mengejar laju angin, tapi aku tak mampu.
“Sekarang gerakan kaki. Gerakan ini juga bermacam-macam…”
Tak lagi kudengar suara Kak Alin berikutnya. Aku menutup telinga sekencang-kencangnya. Rasanya ingin mengenyahkan seluruh orang yang ada di ruangan ini.
Aku kembali ke kamar, seperti biasa. Aku selalu menuliskannya di sebuah kertas, tentang apa pun yang pernah kualami, kejadian-kejadian di rumah singgah, tentang teman-teman yang mungkin mereka sudah lupa. Aku masih mengingatnya, menjadikannya bingkai cerita yang akan mereka baca suatu hari nanti, jika mereka mau. Aku jadi ingat, sudah sebulan aku mencari kotak kesayanganku. Isinya hanya pensil, kertas, dan buku-buku usang yang selalu menemaniku ke manapun aku pergi. Aku sudah menanyakannya berkali-kali pada Bunda Riani hingga beliau bosan. Meski begitu, beliau selalu menjawab sambil tersenyum.
Baca juga: Tendangan Dua Belas Pas – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 15 Juli 2018)
“Ayo, coba Sifa ingat-ingat lagi. Mungkin lupa menaruhnya?”
Aku ingat betul terakhir kali aku menaruhnya di meja belajar. Hal yang membuat aku yakin bahwa tak akan ada yang mau mengambilnya, itu hanya sebuah kotak usang. Bagiku, kotak itu adalah sebagian dari nyawaku.
Aku menundukkan kepalaku dan meliuk-liuk di kolong kursi ruang tamu. Tiba-tiba mataku mendarat pada sebuah sepatu kaca berwarna biru.