Kupu-Kupu Bersayap Elang

Kami bertiga pulang menaiki mo tor Ayah. Hanya motor Ayah kendaraan yang keluarga kami punya. Jalanan masih sangat licin, tapi kami harus segera pulang. Ayah memiliki urusan yang harus diselesaikannya. Ia sudah sengaja membolos kerja untuk melihat penampilanku di panggung dalam Festival Tari Jaipong tingkat SD se-Jawa Barat.

Pandanganku tiba-tiba gelap. Aku tidak melihat apa-apa lagi. Aku hanya mendengar suara. Suara ibu yang memanggilku, suara Ayah yang menjerit kesakitan, dan ibu yang kemudian menangis memanggil Ayah.

Baca juga: Bulan Memancar – Cerpen Tjak Parlan (Republika, 19 Agustus 2018)

***

Kak Alin selalu datang sesuai jadwalnya. Kak Alin datang setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Anak-anak sudah siap menyambut Kak Alin seperti biasa. Sementara, aku masih enggan bergabung dengan mereka.

“Ayo, anak-anak kita berkumpul,” ajak kak Alin sambil menggelar tikar plastik untuk mereka semua duduk.

Di hadapan kak Alin kini sudah berjajar sebelas anak yang siap mendengarkannnya berbicara.

“Sebelum kita melakukan gerakan tari, Kak Alin akan menjelaskan tentang tarian jaipong. Tarian ini adalah tarian khas di Jawa Barat, bahkan populer hingga di luar Jawa Barat. Tari Jaipong ini sangat Kak Alin sukai. Mengapa? Karena tari jaipong dapat membuat penarinya merasa senang karena gerakan-gerakannya yang dinamis dan membuat orang jadi lincah. Jadi, kalau kalian sedih, kalian tidak akan merasa sedih lagi kalau menari ini,” ucap kak Alin seraya tersenyum.

Baca juga: Riwayat Haji – Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)

“Kakak akan ajarkan gerakan-gerakan dasarnya terlebih dahulu. Perhatikan baik-baik. Dimulai dari gerakan kepala.” Kak Alin memutar-mutar kepalanya.

Aku pernah mempelajarinya dulu. Dari balik semak, tidak jauh dari saung, aku mengintip mereka. Secara tidak sadar aku mengikuti gaya mereka.

“Kalau ini namanya galier, gerakan yang memutarkan kepala. Nah, yang ini namanya gilek, gerakan menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri.”

Diam-diam aku meniru gerakan Kak Alin dan teman-teman dari balik pintu. Aku masih ingat semuanya.

Arsip Cerpen di Indonesia