“Sifa, sedang apa?”
Aku menarik kepalaku ke luar kolong, menghadap arah suara yang barusan bertanya padaku. Rupanya Kak Alin sudah datang. Kak Alin hanya tersenyum, sedetik kemudian tangan yang semula dilipatnya ke belakang kini menunjukkan sesuatu di hadapanku. Mataku membelalak, mengamati sesuatu yang selama ini kucari. Kini, lebih rapi dan bagus, tidak lagi usang. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.
Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)
“Ini yang kamu cari? Maaf Kak Alin pinjamnya ngga bilang-bilang Sifa, ya?”
Di atas kotak kecilku ada sebuah majalah yang sudah sengaja dilipat pada halaman delapan, kolom cerpen.
Kupu-Kupu Bersayap Elang.
Aku baca judulnya dengan saksama. Kuamati baris-baris huruf yang tertera di sana, aku seperti mengenalinya.
“Kak Alin minta maaf ya. Selama ini Kak Alin selalu meminjam kotak kecilmu diam-diam pada Bunda Riani.”
Kutelusuri bacaan itu. Isinya sama persis dengan kata-kata yang pernah kutuliskan.
Karya: Sifa Anastasia
(Juara I Lomba Cipta Cerpen).
Rasanya malu meski hanya ingin menatap mata Kak Alin. Dari awal pertemuan aku selalu membencinya, menuduh kedatangannya sebagai penghancur impianku. Aku menangis bukan lagi karena marah. Kali ini dengan nada bahagia. Aku tersenyum, mungkin untuk yang pertama kali, untuk Kak Alin.
Shinta Putri Wulandari. Alamat e-mail: shintawulandariii@gmail.com. Blogspot: shintawulanda.blogspot.com