Lelaki yang Mengencingi Tong Sampah

Kameswari tidur bersama anjing itu. Mereka juga mandi bersama, makan bersama, menonton televisi bersama, menikmati senja bersama, menghitung titik-titik hujan bersama, berburu capung bersama. Setiap kali seseorang bertanya, “Apa dia ini anjingmu, Wari?” Kameswari akan selalu menjawab, “Bukan. Dia kekasihku.” Lalu orang-orang itu mulai menganggapnya gadis gila. Pemuda-pemuda di desa, yang dulu sering memuja-muja kecantikan Kameswari pun mulai menjauh dan mengolok-olok setiap kali berpapasan dengannya, tetapi Kameswari tidak peduli. Bagi Kameswari, anjingnya saja sudah cukup. Ia tidak butuh pemuda yang lihai bergunjing atau warga desa yang tidak mampu memahami apa itu makna cinta yang sesungguhnya.

Melihat anak gadisnya yang demikian, ibu Kameswari menjadi gusar. Hilir-mudik ia mencari cara agar bagaimana anjing itu minggat dari sisi Kameswari. Jam demi jam. Hari demi hari. Hingga akhirnya, ketika ia tengah disibukkan dengan kepulan asap di dapur dan anjing itu menggonggong terus dengan begitu kurang ajar, ia menemukan cara paling picik.

Baca juga: Seorang Lelaki dalam Hikayat Kami – Cerpen Ajeng Maharani (Padang Ekspres, 01 Juli 2018)

Di hari duka itu, Kameswari pulang sekolah dan menemukan anjingnya tidak ada. Ia mencari dan memanggil-manggil anjing itu. Ia bahkan belum melepas seragamnya tetapi sudah mengelilingi desa hampir tiga kali.

Siang itu, Kameswari merasa hampir mati karena kehilangan. Ia gontai memasuki halaman rumah, berwajah kuyuh dan penat. Di meja makan, ibunya menunggu dengan mengulum senyum. “Makan saja dulu, nanti cari lagi,” ujar ibunya membujuk. Kameswari menggeleng, tetapi segera ibu menghampiri dan menyeretnya agar duduk dan makan.

“Hari ini Ibu masak rica-rica daging,” ucap ibunya. Itu adalah kesukaan Kameswari. Melihat mata bahagia ibunya, Kameswari merasa tidak layak untuk menolak cinta-kasih itu. Ia berusaha makan selahap mungkin. Secepat yang ia bisa. Tanpa menyadari, ada kenyataan paling brutal yang tersembunyi di balik senyum bahagia sang ibu.

Baca juga: Pete Si Kerdil – Cerpen Carol Moore (Haluan, 07 Oktober 2018)

Anjing itu menghilang. Cinta Kameswari pun menghilang. Bertahun-tahun. Ia tidak bisa lagi merasakan debaran sekuat yang ia rasakan ketika menatap anjing hitam berekor pendek itu. Tapi ketika melihat lelaki yang mengencingi tong sampah di lorong sempit sebuah toko kelontong, Kameswari jadi teringat anjingnya dan memutuskan untuk jatuh cinta sekali lagi.

Di malam itu, ia terus mengikuti langkah-langkah Bandit yang sempoyongan. Lelaki itu sedang mabuk, Kameswari yakin itu. Tetapi perasaannya tidak berubah sedikit pun. Ia pernah mencintai seekor anjing, jadi kenapa saat ini ia harus berhenti mencintai seorang pemabuk yang tidak lebih payah dari seekor anjing?

Arsip Cerpen di Indonesia