Baca juga: Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya – Cerpen Ana Nurhasanah (Haluan, 01-02 September 2018)
Di antara kebimbangan yang memantul-mantul di dalam pikirannya, Kameswari dikejutkan suara jeritan seorang perempuan dari dalam rumah. Ia spontan berdiri, menatap nanar ke arah kegelapan dan memasang telinga penuh khidmat. Perempuan asing di dalam rumah itu kembali berteriak. Lalu hening. Berteriak sekali lagi. Hening kembali. Kameswari berdebar-debar. Kemudian, di antara belukar malam yang semakin rimbun, samar-samar, ia mendengar suara gonggongan seekor anjing.
Kameswari tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Cinta, benar-benar tidak pernah salah tujuan. []
Ajeng Maharani, penikmat sastra. Lahir di Surabaya. Buku kumpulan cerpennya ‘Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan’ (Penerbit Basabasi – 2017)