Menyadari ada seseorang yang mengikuti bayangannya, Bandit menghentikan langkah dan berputar cepat ke belakang. Ia menemukan wajah terkejut seorang perempuan bermuka bulat, dengan bibir merekah yang begitu sempurna. Bandit bersidekap. Di tubuh malam yang temaram itu, mereka bersitatap cukup lama. Lalu percakapan yang muncul beberapa detik kemudian, kurang-lebih seperti ini:
Baca juga: Tembok Kamar – Cerpen Linda A. Lestari (Haluan, 30 September 2018)
“Iya?”
“Anu, eehmm … Apa kau lihat anjingku, ya, Bang?”
“Anjing? Tunggu … Apa anjing itu binatang yang suka menggonggong?”
“Iya. Menggonggong. Hitam dan berekor pendek.”
“Apa dia suka menjilat?”
“Iya, suka sekali menjilat. Lidahnya merah dan berliur, Bang.”
“Oh! Kalau begitu, aku lihat dia di sana.”
“Di sana? Di mana?”
“Di gedung paling besar di kota ini.”
Baca juga: Yang Retak di Malam Ketujuh – Cerpen Muhtadi Chasbien (Haluan, 15-16 September 2018)
“Gedung paling besar?”
“Iya. Di sana banyak anjing yang suka menjilat. Kau ambil saja satu.”
“Bisa dibawa pulang, Bang?”
“Aku tidak tahu. Sana, cepat pergi. Sebelum anjing-anjing itu pulang ke rumah mereka dan menyusu pada istri muda.”
Lalu percakapan itu pun berakhir dan Bandit kembali berjalan. Sementara Kameswari akhirnya memutuskan berdiri saja di tempat. Ia berubah menjadi seonggok patung yang baru saja kehilangan cinta dan sebuah percakapan basa-basi paling memualkan.
***