Lelaki yang Mengencingi Tong Sampah

Cinta selalu membuat perempuan tidak mengenal keputusasaan. Kameswari kembali berdiri di bawah pohon trembesi itu di malam berikutnya, tetapi sosok lelaki yang ingin dijumpainya tidak juga nampak. Lorong sempit toko kelontong itu senyap. Hanya ada tong sampah yang (mungkin) bau kencing dan makanan busuk dan bolam lampu yang meredup. Kameswari seketika merasa lelah menjadi seorang perempuan yang tanpa malu mengejar lelaki tak dikenal. Tapi lagi-lagi, cinta membuatnya tidak ingin menyerah.

Perempuan itu akhirnya menelusuri jalan yang sama dengan semalam. Ia berpikir, mungkin dengan melalui jalan itu, dirinya akan bertemu dengan Bandit. Dan jika saat itu terwujud, kali ini ia tidak akan lagi bertanya tentang seekor anjing yang hilang, atau anjing yang bagaimana pun itu. Ia mulai menyusun rencana-rencana pertanyaan.

Baca juga: Ayah Ingin Aku Menari – Cerpen Amika An (Haluan, 11-12 Agustus 2018)

Kameswari tersenyum-senyum sendiri. Di sepanjang jalan, orang-orang yang melaluinya jadi was-was dan menatap aneh. Ada perempuan gila lepas dari rumah sakit jiwa, demikian pikir mereka. Tapi Kameswari tetap saja tersenyum-senyum sendiri. Tak peduli anjing.

Langkah kaki Kameswari terhenti di sebuah warung kopi yang teronggok lesu di pinggir jalan. Bandit berdiri di sana, di depan warung, mengamit sebatang rokok dan mulutnya terbahak-bahak. Mata Kameswari terbelalak bahagia. Ia hampir limbung, hampir pingsan karena bahagia yang menyeruak, tapi sekuat tenaga ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Menarik napas, lalu mengembusnya cepat-cepat.

Bandit mulai melambai pada sedikit orang yang berada di dalam warung dan berjalan pergi, memasuki sebuah gang sempit. Dengan lesat, Kameswari membututinya. Kali ini harus lebih hati-hati. Ia tidak ingin lelaki itu melihatnya dan marah. Lelaki itu tidak sedang mabuk kali itu, jadi tidak mungkin bisa dibohongi dengan percakapan yang bodoh seperti semalam.

Baca juga: Bunga Kesunyian yang Tumbuh di Jantungmu – Cerpen Risda Nur Widia (Haluan, 23 September 2018)

Malam yang lembab terus mengambang, Kameswari masih mengikuti Bandit diam-diam. Debaran dadanya tidak menurun sedikit pun. Punggung rata lelaki itu nampak jantan. Asap rokok Bandit berkali-kali membubung dan lesap menghilang lamat-lamat. Melihat rokok yang terapit sempurna di jari lelaki itu, membuat Kameswari ingin menjelma batang rokok saja.

Pada pertigaan jalan, Bandit membelok ke arah kanan dan menghilang di balik sebuah pagar hitam berkarat. Bau besi yang membusuk menusuk cuping Kameswari ketika perempuan itu menempelkan tubuhnya di sana, melongokkan kepala dan mencari-cari sosok Bandit. Lelaki itu sudah masuk rumah rupanya, batin Kameswari dengan wajah kecewa. Tubuhnya lunglai, merosot dan terjongkok lesu. Ia ingin masuk, tapi takut diusir. Ia ingin menunggu di sana sampai pagi bertunas, tapi takut dikira mata-mata maling.

Arsip Cerpen di Indonesia